Sejarah Islam Jawa: Siasat Melawan Penjajahan Bangsa Asing Oleh Pribumi Nusantara

Apakah kamu punya blog dan pengen bergabung di komunitas para blogger telegram? Saya akan memberitahu kamu tautan grup telegram beserta linknya untuk bisa join.

1. BauBlogging Community

Tautan Telegram 1

2.  Blogger Indonesia

Tautan Telegram 1

3. Blogger Indonesia

Tautan Telegram 1

4. Blogger Hugo

Tautan Telegram 1

5. Blogger Indonesia Lagi

Tautan Telegram 1

6. Blogger Indonesia Lagi

Tautan Telegram 1

7. Blog Personal

Tautan Telegram 1

8. Wordpress Indonesia

Tautan Telegram 1

9. Wordpress Semarang

Tautan Telegram 1

10 Google Adsense Indonesia

Tautan Telegram 1

Pendirian Kesultanan Banten bermula dari sosok Syarif Hidayatullah.

Mubaligh ini juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Menurut Mahrus el – Mawa dalam artikelnya pada jurnal Jumantara (2012), salah satu seorang walisanga itu menjalani tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat), Banten dan Sunda Kelapa (Jakarta).

Teks Carita Purwaka Caruban Nagari menyebutkan, Sunan Gunung Jati memiliki 98 murid.

Dengan pendekatan yang simpatik, mereka berhasil mendekatkan tokoh – tokoh penting di Banten untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Termasuk diantaranya adalah bupati setempat.

Masalah mulai muncul pada 1522. Seperti dipaparkan Prof. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dalam bukunya, Sejarah Umat Islam. Kerajaan Pejajaran menguasai sebagian besar wilayah Banten termasuk bandar – bandar penting semisal Sunda Kelapa, Pontang, Cikandi, Tangerang, dan Cimanuk.

Eksistensi negara Hindu tersebut bukanlah ancaman sampai rajanya bersekutu dengan Portugis melalui Perjanjian Padrong. Salah satu buktir kesepatakan itu mengizinkan Portugis untung mendirikan benteng di Sunda Kelapa.

Kontan saja langkah Pajajaran itu menuai kecaman. Pendirian Benteng Portugis itu sesungguhnya dapat menjadi celah penguasaan bangsa Eropa atas seluruh Jawa.

Oleh karena itu, raja – raja Muslim bertekad mengusir penjajah dengan kekuatan militer.

Sebelumnya, pada 1511 armada Alfonso de Alberquerque telah menaklukkan bandar Malaka dan Pasai.

Dengan penaklukkan itu, jalan Portugis untuk memonopoli perdagangan rempah – rempah di Nusantara kian mulus.

Malaka yang berada dalam pusat kendali Portugis cenderung menyingkirikan para Pedagang Arab, Persia, Cina, dan lain – lain yang berlayar di Nusantara.

Mereka pun berduyun – duyun beralih ke Banten, khususnya Sunda Kelapa, untuk melanjutkan transaksi rempah – rempah yang berlangsung dari dan menuju Maluku.

Bagaimanapun, hegemoni Portugis tetap menjadi ancaman di Pulau Jawa. Imbas Perjanjian Padrong tidak bisa dianggap main – main.

Dalam hal ini, Sunan Gunung Jati tampil di barisan terdepan.

Berbeda dengan kebanyakan Walisanga, dia bukan sekedar alim, melainkan juga pemimpin politik (amir) Kekuasaannya di Cirebon bermuila setelah berhasil menyebarkan Islam di Wilayah – wilayah Banten.

Dia kemudian memenuhi panggilan Adipati Cirebon saat itu yang juga kerabatnya sendiri.

Adapun perkembangan dakwah di Banten untuk sementara diamanatkan kepada putranya, Hasanuddin.

Sunan Gunung Jati naik menggantikan adipati sebelumnya sebagai penguasa Cirebon.

Selama menduduki jabatan di Keraton Pakungwati, dia meningkatkan kekuatan maritim armada Cirebon.

Disamping itu, sentra – sentra Islam juga dibangunnya, antara lain berupa Masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500).

Menurut Prof. Hamka, ada motif dalam keputusan adipati Cirebon itu untuk mengusir Portugis.

Sejak 1521, bangsa Eropa itu menjajah Pasai, yang tidak lain merupakan kota Kelahiran Sunan Gunung Jati.

Oleh karena itu, semangatnya kian berkobar untuk mengalahkan Potugis. Pertama – tama, dia meningkatkan kerjasama dengan pusat kedaulatan Islam di Pulau Jawa saat itu, Kesultanan Demak, yang dipimpin oleh Sultan Trenggono.

Di lapangan, Muncul sosok Fatahillah yang memimpin Aliansi Cirebon – Demak.

Beberapa sumber menyebutkan panglima asal Pasai ini masih berkerabat dekat dengan Sunan Gunung Jati.

Pada akhir tahun 1526, pasukan Fatahillah dapat menaklukkan Banten. Putra Sunan Gunung Jati, Hasanuddin menjadi wali penguasanya. Satu tahun kemudian, Fatahillah mulai bergerak menyerang basis Portugis di Sunda Kelapa.

Pasukan yang dipimpin Fransisco de Sa itu harus mengakui kekalahan.

Sejak 22 juni 1527 Sunda Kelapa berganti nama Jayakarta (Harfiah: Kemenangan besar). Nama ini dipilih untuk menandai keunggulan bangsa pribumi atas penjajahan asing. Sampai sekarang, tanggal tersebut di peringati sebagai hari lahir DKI Jakarta.

Sejak keberhasilan mengusir Portugis dan menaklukkan Pajajaran, daulat Islam mulai bediri kukuh di Banten. Pada 1552, putra Sunan Gunung Jati, naik tahta menjadi Sulan Banten 1.

Sementara itu, Kesultana Demak mulai melemah akibat intrik politik di lingkungan istana. Untuk menghindari polemik, sejak 1568 Banten bukan lagi kadipaten di bawah Demak sehingga menjadi Kesultanan yang mandiri.

Demikianlah, hingga belasan tahun kemudian Sultan Hasanuddin berhasil membawa Banten sebagai poros maritim yang jaya dan disegani di seluruh Pulau Jawa dan Nusantara pada umumnya.

Dibawah kepempinan yang sosok bergelar Panembehan Surosawan ini, wilayah Banten mencakup selat Sunda, Lampung, dan Sebagian Bengkulu.

Hamka Menuturkan, Pelabuhan – pelabuhan Banten selalu ramai dikunjungi para saudagar dari mancanegara.

Hasil bumi yang dikendalikan Banten menjadi komoditas unggulan, seperti: Lada, Kayu Cendana, atau gading.

Irmawati M Johan dalam laporan peneltiannya untuk Universitas Indonesia (1991/1992) menyebutkan, dalam masa ini Sultan Hasanuddin dan ayahnya, Sunan Gunung Jati, juga menjalin hubungan diplomatik dengan Haramain.

Babad Banten memuat informasi dua tokoh tersebut menunaikkan ibadah haji.

Selain itu, berita – berita Belanda yang muncul belakangan juga membenarkan hal yang sama. Pada 1669, sultan Banten mengutus sejumlah diplomat ke Makkah dengan menumpangi kapal miliknya sendiri, Selamat.

Kira – kira dua tahun kemudian, para utusan ini kembali ke Banten dengan membawa surat restu dari penguasa Makkah.

Isinya menganugerahkan gelar Sultan Abdul Qahar kepada penguasa Banten.

Hubungan Patronase serupa juga dilakukan sejumlah kerajaan Islam lainnya di Nusantara, semisal Mataram dan Palembang.

Setelah wafatnya Sultan Banten 1, Pangeran Yusuf mulai memimpin Banten pada 1570. Maulana Yusuf, demikian dia disebut, merupakan anak tertua Hasanuddin dari pernikahannya dengan Ratu Pembayun.

Sembilan tahun kemudian, Kerajaan Paku Pejajaran dapat ditaklukkan. Dengan demikian, kesultanan Banten menjadi poros kerajaan Islam yang semakin kuat di Jawa hingga pelemahannya pada permulaan abad ke – 19.

Dinamika Masa – Ke masa Kesultanan Banten

Claude Gullot dalam The Sultanate of Banten menjelaskan, sejak 1550 – an Kesultanan Banten mengalami perkembangan pesat.

Maulana Yusuf memerintah dengan penuh visi.

Kerajaannya mengalami banyak perbaikan, terutama mengenai sektor – sektor pertanian irigasi dan pelabuhan.

Pelbagai bendungan dan kanal dibangun untuk menghidupi desa – desa di Banten. Di samping dia juga memerintahkan pendirian masjid – masjid di seluruh wilayah kekuasaanya.

Penulis Kebesaran dan Tragedi Kota Banten, Heriyanti O Untoro, mengungkapkan fakta bahwa keberhasilan Banten sangat bergantung dari kultur lada dan pelabuhan.

Memang, pada masa ini pelabuhan Banten merupakan salah satu bandar terbesar di Asia Tenggara.

Komoditas lada bersumber dari daerah pedalaman, utamanya Lampung yang telah menjadi Wilayah kekuasaan Banten sejak era Sultan Hasanuddin. Untuk mendukung perdagangan lada, Sultan Banten membangun rupa – rupa insfrastruktur, seperti benteng – benteng, gudang – gudang, jalan dan pasar.

Letak pelabuhan Banten di tepi sungai Muara Cibanten dan menguntungkan perhubungan dengan daerah pedalaman di Jawa yang juga menjadi basis produksi lada. Pada masa itu, Lada merupakan suatu rempah – rempah yang paling dicari para pedagang Eropa.

Di Benua Biru, harganya amat sangat tinggi, tetapi selalu laku. Hal ini kemudian tercermin dalam pembendaharaan kata dalam bahasa belanda, peperduur [Harfiah: Semahal Lada].

Ungkapan semacam ini muncul karena masyarakat Eropa memandang lada sama berharganya dengan emas.

Akan tetapi, dalam era Maulana Yusuf pula muncul friksi di lingkungan istana .

Pada 1580, dia menghembuskan nafas terakhirnya setelah menderita sakit keras. Perpecahan pun kian jelas,

Dengan membawa kekuatan militer pendukungnya, Pangeran Arya menuntut agar tahta diteruskan kepadanya.

Dewan Kadi Kesultanan Banten Menolaknnya sehingga Pangeran Muhammad, yang saat itu masih berusia 9 tahun, tetap diangkat sebagai raja Banten.

Gerakan Pangeran Arya ini gagal menuai dukungan sehingga terpaksa mengasingkan diri ke Jepara hingga akhir hidupnya.

Sejak menjadi raja muda, sang Pangeran bergelar Maulana Muhammad. Sampai pada usianya beranjak dewasa pada 25 tahun, tampuk kepemimpinan dipegang Dewan Mangkubumi. Sementara itu, daerah kekuasaan Banten di Sumatra Selatan semakin Bergejolak.

Kesultanan Banten menghadapi tantangan baru dari kerajaan Palembang yang menguasai pelabuhan Sungat Musi.

Seandainya berhasil merebut bandar Sungai Musi, Banten dapat memulihkan pengaruhnya di Sumatra hingga Selat Malaka serta memastikan kelancaran lalu lintas ekspor lada atau gading.

Seperti dituturkan oleh Prof. Hamka, pada 1596 pecahlah perang besar antara kesultanan Banten dan Kerajaan Palembang. Maulana Muhammad sendiri memimpin pasukannya ke Sumatra, sedangkan orang – orang Palembang dipimpin ki Geding Suto. Sayangnya, penguasa Banten kemudian Tewas dihantam peluru pasukan Palembang.

Ambisi untuk menduduki Pelabuhan Sungai Musi pun sirna. Pada tahun yang sama, Kesultanan Banten di Jawa menghadapi tantangan baru yangb jauh lebih berbahaya. Kapten Belanda Cornelis de Houtman tiba di Banten setelah mengarungi Selat Sunda demi menghindari armada Portugis di Selat Malaka.

Claude Gullot menegaskan, pada 1596 sebagai titik balik bagi Kesultanan Banten. Setelah Maulana Muhammad meninggal dunia, penggantinya ternyata masih berusia anak – anak.

Pemerintahan untuk sementara dijalankan Dewan Mangkubumi.

Sultan Abul Mufakhir, demikian namanya, dalam tahap awal harus menghadapo perpecahan di tingkat elite. Di satu kubu, ada para loyalisnya, sedangkan di kubu lain orang – orang istana bersekutu dengan kaum pedagang yang m,erasa tidak puas dengan kebijakan Banten selama ini.

Oleh karena itu, kesultanan ini mengalami krisis politik selama 40 tahun lamanya.

Banten kemudian semata – mata menjadi penonton persaingan antara Belanda dan Portugis di Jawa yang hendak menguasai jalur maritim remoah – rempah pada 1601, kedua Bangsa Eropa itu saling bertempur di Teluk Banten. Belanda tampil sebagai pemenang sehingga Portugis menyingkir dari Tanah Jawa.

Kemenangan Belanda ini cukup mengejutkan karena ekspedisi de Houtman sebelumya telah ditangkal oleh aliansi Banten dan para Sultan Muslim di pesisir utara Jawa. Nasib pengelana ini pun berkahir tragis ketika kapal – kapalnya kalah bertempur dengan pasukan Inong Balee di Aceh. Pada tahun 1599, Cornelis de Houtman tewas di tangan pahlawan perempuan Aceh, Malahayati.

Pengaruh Kesultanan Banten

Kesultanan Banten mengawali abad ke – 17 dengan keadaan yang cukup payah. Para Sultan yang ada seakan tidak berdaya menghadapi infiltrasi Belanda dan Inggris.

Hingga tahun 1609, negeri ini pecah perang saudara yang didalamnya kalangan elite saling berebut kedudukan.

Kekacauan berakhir ketika Pangeran Ranamanggala naik tahta dengan menyingkirkan semua pesaingnya. Dia berambisi untuk mengambil alih kembali kontrol Banten atas pelabuhan – pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Belanda menjawab ambisi tersebut dengan serangan besar – besaran atas Jayakarta pada 1619. Dengan pimpinan Jon Pieterzoon Coen, armada Belanda dapat merebut kota strategis ini dari kekuasaan Banten.

Sejak saat itu, Jayakarta berganti nama menjadi Batavia. Coen memiliki impian besar untuk daerah yang baru saja ditaklukkannya itu. Dia ingin Batavia bertransformasi menjadi pusat kendali Belanda di seluruh Nusantara. “Banten sudah mati, tetapi Batavia akan selalu Abadi,” demikian katanya.

Akan tetapi, dalam dekade – dekade berikutnya Banten mulai mampu menjawab tantangan zaman. Memang, sejak medio abad ke – 17 kesultanan ini bersikap lebih terbuka terhadap kedatangan para pedagang dari pelbagai bangsa Eropa yang ingin mendirikan pos – pos di wilayahnya.

Di antara mereka adalah Belanda, Inggris, Perancis, Denmark, Portugis dan Spanyol. Tambahan pula, Sultan Banten mulai mengirimkan misi diplomatik ke pelbagai negeri Eropa, yang lebih mengenal Bantam.

Claude Gullot merangkum beberapa bukti pengaruh Banten, sebagaimana tercermin dalam teks – teks Eropa. Kebanyakan penulis barat saat itu menganggap Banten sebagai penguasa seluruh Jawa.

Dalam naskah drama karangan Ben Jonson, The Alchemist (1610), atau karya W Congreve Love for Love (1695), misalnya, negeri Banten digambarkan sebagai latar tempat narasi fiktif itu. Hal yang sama juga tampak dari karya – karya Bignon, Aventures d’Abdalla (1712), Aphra Behn The Court of the King of Banten (1685), serta novel Madeleine de Gomez yang berjudul La Princesse de Java.

Dalam abad ke – 17 pula, Kesultanan Banten mulai giat menjalin kerjasama dengan para pedagang Eropa. Menurut Gullot, atas saran orang – orang Inggris, syahbandar Banten saat itu berupaya mewujudkan armada laut yang lebih efisien dan canggih, sebagaimana yang dimiliki bangsa – bangsa Eropa.

Sampai akhir tahun 1660 –an, sejumlah kapal besar milik Banten dibangun dengan cetak biru dari perancang Inggris yang bekerja di Rembang. Kapal – kapal lainnya milik Banten dibeli dari perusahaan – perusahaan asal Armenia atau Jepang.

Ambisi Banten kian nyata untuk berjaya di Samudra Hindia. Bahkan, Gullot menyebutkan, demi meningkatkan relasi perdagangan, Kesultanan ini mempunyai kedutaan besar di mancanegara, seperti Surat (India) atau London (Inggris).

Sultan Ageng Tirtayasa

Tanda – tanda kemunduran Banten pada era Sultan Abul Mufakhir perlahan – lahan sirna karena mampu menjawab tantangan zaman. Pada 1631, cucu raja tersebut lahir dengan nama Pangeran Surya.

Lalu, 20 tahun kemudian, dia menjadi rajai Banten dengan gelar raja Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah. Belakangan, anak pasangan Abu al-Maali Ahmad dan Ratu Martakusuma ini lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa, semenjak pendirian keraton Banten yang baru di dusun Tirtayasa (kini Kabupaten Serang).

Uka Tjadrasasmita (1984) menggambarkan sosok Sultan Ageng Tirtayasa sebagai pemimpin yang adil, memperhatikan persoalan rakyat dan membela kedaulatan Banten. Di masa kepemimpinan kakeknya, hubungan Banten dengan Belanda (VOC/Kompeni) berjalan seolah – olah baik.

Diplomasi terus dilaksanakan, tetapi di lapangan orang – orang Belanda semakin congkak. Apalagi kompeni sendiri yang berbasis di Batavia kerap melanggar perjanjian lantaran menggao remeh Kesultanan Banten.

Belanda kerap merintangi kapal – kapal Bangten yang berlayar menuju Maluku, Perah, dan Ujung Selang. Tujuannya untuk menjaga keutuhan monopoli perdagangan rempah – rempah yang dijalankan Belanda di Nusantara, khsusunya perairan Maluku. Selain itu, Batavia juga dijadikannya terlarang dimasuki para pelaut dari Banten yang hendak mencari cengkeh dan pala.

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, pelabuhan – pelabuhan Banten kian ramai dikunjungi para pelaut dari pelbagai bangsa. Melihat kenyat Banten agar seluruh Jawa dapat dikuasainya.

Pada era pemerintahan sang sultan, setidaknya dua kali Kompeni menyulut perselisihan dengan memblokade Banten pada tahun 1655 dan 1657.

Kapal – kapal mancanegara yang hendak bertransaksi di Banten pun terkendala masuk. Pada 1658 dan 1659, kedua belah pihak sempat menemui kata damai. Dalam hal ini, Inggris yang merupakan pesaing VOC jauh lebih dapat dipercaya ketimbang orang – orang gubernur jendral John Matsuyker.

Untuk berjaga – jaga menghadapi Belanda, Sultan Ageng Tirtayasa bekerjasama dengan Pangeran Trunojoyo dari Madura, serta pihak – pihak dari Bangka dan Makasar.

Pada 1676, dia memasok persenjataan kepada orang – orang Trunojoyo yang bersauh di Cirebon. Sementara, pada 1671 ratusan pasukan Makasar di bawah pimpinan Karaeng Montamarmo mengunjungi Banten. Sampai di sini segalanya tampak siap.

Namun, Belanda dengan lihai dapat mencium intrik di lingkungan internal Kesultanan Banten sendiri. Sultan Ageng Tirtayasa diketahui memiliki putra mahkota, yakni anak sulungnya sendiri yang bernama Pangeran Anom.

Pada 1671, sosok ini menunaikan ibadah haji dan setibanya di Tanah Air beberapa waktu kemudian mendapatkan gelar kehormatan Sultan Abdul Qahar dari penguasa Makkah.

Sejak saat itu, Pangeran Anom resmi naik tahta sebagai sultan muda, sedangkan ayahnya menjadi sultan tua yang tetap memegang beberapa urusan eksternal kerajaan.

Sultan Abdul Qahar bertempat tinggal di Surosawan, berbeda dari ayahnya di Tirtayasa. Jauhnya bapak dan anak ini menjadi kesempatan bagi Belanda untuk mengadu domba keduanya.

Orang – orang Belanda menghasut Sultan Abdul Qahar agar melawan bapaknya yang seperti enggan melepaskan seluruh kewenangan kerajaan kepadanya.

Menurut Tjadrasasmita, Belanda saat itu memang berupaya keras untuk melemahkan Kesultanan Banten dari dalam.

Sebab, kekuatan militer negara Islam ini cukup piawai untuk menahan dominasi Batavia. “Banten harus ditaklukkan, bahkan dihancur – leburkan, atau kompenilah yang lenyap,” demikian tulis Gubernur Jendral Rijklof van Goens dalam suratnya kepada Amsterdam, tertanggal 31 januai 1679.

Akhirnya, Sultan Abdul Qahar jatuh dalam pengaruh kompeni. Pada 1680, dia bahkan mengirimkan utusan untuk mengucapkan selamat atas jabatan gubernur jendral baru yang kini dijalankan Cornelis Speelman. Tindakan ini tentunya menyakiti perasaan rakyat Banten dan lebih – lebih ayahnya sendiri.

Sultan Ageng Tirtayasa pun segera menyusun pasukan yang terdiri atas aliansi pelbagai suku bangsa, semisal Makasar, Melayu, dan rakyat dari Pontang, Caringin, Tanara, Lampung, serta Bengkulu. Kali ini, mereka hendak menyasar Surosawan yang sudah melewati batas toleransi.

Di basis kekuasaan Sultan Abdul Qahar itu, pasukan Belanda sudah berjaga – jaga. Teranglah bahwa Kompeni berpihak padanya. Sementara itu, banyak tentara Banten yang dikirim ke Pontang justru menggabungkan diri ke barisan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada febuari 1682, pecahlah perang diantara dua kubu tersebut. Meskipun kekuatan penuh, pada akhirnya pasukan Sultan Ageng Tirtayasa tidak mampu menghalau kekuatan Belanda dan Sultan Abdul Qahar. Berbulan – bulan lamanya pemimpin Banten berjuang mati – matian, khususnya di sepanjang perbatasan Tangerang – Batavia.

Setelah Pontang jatuh ke tangan Belanda, ibukota Tirtayasa pun tinggal menunggu giliran. Akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa yang diikuti para pendukung setianya dan pasukan laskar – laskar rakyat terpaksa menyingkir ke pedalaman. Diantara mereka terdapat Syekh Yusuf al-Makassari selaku penasihat pemimpin Banten tersebut.

Sementara itu, Sultan Abdul Qahar berkirim surat kepada gubernur jendral Belanda. Isinya mengabarkan lokasi persembunyian mereka dengan kutipan bahwa ayahnya akan dibawa ke Surosawan. Di saat yang sama, dia pun mengirim surat melalui kurir kepada Sultan Ageng Tirtayasa.

Demikianlah, pemimpin Banten yang amat dicintai rakyatnya itu harus menghabiskan sisa usia di dalam penjara. Satu tahun kemudian, Syekh Yusuf al-Makassari dan para pendukung lainnya dari Tirtayasa dapat ditahan Belanda pula.

Sultan Abdul Qahar barangkali mengira dengan penahanan atas lawan politiknya itu maka kekuasaannya terpulihkan. Pada akhirnya, Kesultanan Banten tidak lebih dari bawahan Belanda.

Pada 17 april 1684, dia menandatangani kesepakatan yang terdiri atas 10 pasal dengan Kompeni. Sejak saat itu, kejayaan Banten redup redam ditelan gurita monopoli dagang VOC. Pulau Jawa yang dahulu mati – matian dilindungi bala tentara Fatahillah dari rongrongan asing, kini berubah menjadi kebun raya raksasa yang diisap koloniliasme Belanda.

Sumber Asli / Referensi: Koran Republika, Ahad 8 April 2018 (Islam Digest) Penulisnya, Hasanul Rizka.

Tujuan Ditulis di Web ini guna menjangkau banyak Pembaca dan Belajar dari Sejarah.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *