Baru – baru ini pemerintah menerbitkan uang dengan ikon gambar – gambar pahlawan (diluar kontroversi polemik mengenai uang baru tersebut) sebagai wujud apresiasi pemerintah terhadap perjuangan para pahlawan dalam menegakkan indonesia merdeka, indonesia yang berdaulat, dan indonesia yang masih bisa kita rasakan hingga sekarang ini.

Tak hanya para – laki – laki yang maju untuk memperjuangkan kemerdekaan, namun para perempuan juga tak mau kalah.

baik buruknya generasi yang akan datang dapat dilihat dari wanitanya…

Dari para wanita inilah akan lahir generasi dan pendidik pertama bagi penerus bangsa.    

Beberapa tokoh wanita muslimah ternyata juga tak luput turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan.

1. Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah nama lengkapnya.

Lahir di Maninjau, Agam, Sumatra Barat pada tanggal 14 september 1910. Beliau adalah seorang penggerak wanita yang sangat berperan dalam kemerdekaan indonesia, terutama di bidang pendidikan, pemberdayaan wanita dan jurnalisme nasional pada waktu itu.

Beliau sangat tegas dalam berpidato dan tulisan – tulisannya dikenal sangat tajam dan bersifat anti kolonialisme.

Seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya demi kemajuan wanita dan indonesia sebelum bahkan sesudah merdeka.

Rasuna Said menamatkan SD nya lalu melanjutkan pendidikan di pesantren dan diniyah putri bukittinggi.

Disana beliau belajar tentang banyak hal. Beliau juga mulai mempelajari dan memperdalam masalah agama islam dari gerakan tahwalib.

Gerakan islam yang banyak dipengaruhi oleh gerakan nasionalis islam turki pada masa itu.

Beliau tidak hanya memahami soal agama atau pengetahuan umum saja, namun juga tertarik dengan politik.

Karena beliau membantu mengajar wanita tentang pendidikan sebagai fondasi akan kemajuan wanita di tanah minang.

Selain mengajari hal tersebut, Rasuna Said juga mengajari masalah politik, bahkan beliau berencana memasukkan pelajaran politik ke dalam kurikulum sekolah diniyah pada masanya, namun permohonannya ditolak.

Rasuna Said kecewa tentang hal itu.

Rasuna Said sering memberikan pidato – pidato ditengah masyarakat yang isinya pesan anti kolonialisme yang gamblang dan tajam. Hal ini membuat Rasuna Said menjadi wanita pejuang pertama yang terkena hukuman kolonial belanda yang dinamakan speechdelict.

Hukuman yang ditujukan pada orang – orang yang berbicara menjelek – jelekkan atau mendesak pemerintah belanda di depan umum. Rasuna Said pernah ditangkap di semarang gara – gara pidatonya itu selama beberapa tahun.

Setelah bebas dari pejara, beliau pun menjadi seorang jurnalis di ‘Menara Poetri’ yang merupaka n sebuah majalah mingguan yang berisi tulisan – tulisan Rasuna Said yang dikenal tajam dan asih membawa pesan – pesan antikolonialisme yang kental.

Ini merupakan perjuangan barunya untuk menggerakkan masyarakat luas. Sayangnya majalah itu bangkrut karena tidak ada sumber pendanaan yang cukup.

Rasuna Said meneruskan perjuangan di politik saat indonesia sudah merdeka. Karir politknya antara lain menjadi sekretaris Sarekat Rakyat, duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indnesia Serikat (DPR RIS), Anggota Pertimbangan Agung dan menjadi Dewan Perwakilan Sumatra.

Rasuna Said dianugerahi penghargaan pahlawan nasional berdasarkan surat keputusan Presiden R.I NO .084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 desember 1974.

2. Opu Daeng Risaju

Mungkin masih asing karena kita tidak pernah ditunjukkan sosok beliau sebelumnya.

Beliau berasal dari sulawesi selatan. Opu Daeng Risaju memang tidak berhubungan langsung dengan peristiwa 17 agustus 1945, namun kontribusinya untuk memperjuangkan tanah air sangat banyak.

Beliau lahir dengan nama Famajja. Sedang nama Opu merupakan gelar bangsawan dari Luwu (kini salah satu kabupaten di sebelah timur makasar).

Dia dilahirkan di luwu pada tahun 1880. Meski berasal dari keluarga bangsawan lainnya. Justru Famajjah, begitu akrab dengan pendidikan budaya dan agama.

Semangat patriotisme telah ditanamkan dari kecil oleh kedua orang tuanya. Setelah menikah dengan bangsawan dan karena memiliki pengetahuan agama yang luas, maka digelarilah beliau Opu Daeng Risaju.

Pada tahun 1905, belanda berhasil menguasai kerajaan luwu.

Karena itu Opu Daeng Risaju bersama suaminya meninggalkan luwu dan menetap di pare – pare.

Disanalah dia mulai aktif dalam organisasi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), tepatnya sejak 1927.

Setelah merasa siap, dia kembali ke luwu bersama suaminya pada tahun 1930.

Di luwu, Opu Daeng Risaju mendirikan cabang partai politik PSII dan menjadi perempuan pertama yang memimpin partai politik.

Sejak saat itu, begitu banyak masyarakat yang kemudian direkrut menjadi kader partai.

Opu Daeng Risaju memulai perjuangannya di malangke, luwu utara.

Dalam 15 hari dia berhasil menyatukan rakyat melawan penjajah belanda. Meskipun pergerakan politiknya dicium berbahaya oleh belanda.

Belanda berkali – kali melakukan tekanan kepadanya, namun dia sama sekali tak menggetarkan langkahnya.

Dia berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah amar ma’ruf nahi mungkar.

Dia bahkan rela bercerai dengan suaminya dikarenakan telah terpengaruh tekanan belanda. Karena perlawanannya, dia di penjara selama 8 bulan dan diperlakukan sama seperti narapidana lain.

Tanggal 9 febuari 1942, jepang mendarat di makasar dan daerah – daerah lain, termasuk luwu.

Keika jepang menyerah kepada sekutu tanggal 15 agustus 1945, kedatangan sekutu ke tanah air kita diboncengi NICA. Pada tanggal 23 januari 1946, NICa berulah yang menimbulkan kemarahna rakyat luwu.

Konflik antara NICA dengan para pemuda pun terjadi. Salah satu daerah yang ikut terkena imbas konflik tersebut adalah daerah Belopa tempat Opu Daeng Risaju tinggal.

Dalam peristiwa ini, Opu Daeng Risaju memiliki peran besar,

Dia banuak melakukan mobilisasi dan memberikan doktrin perjuangan kepada para pemuda, sehingga membuat NICA berupaya untuk menangkapnya.

NICA mengeluarkan pengumuman untuk menangkap Opu Daeng Risaju, baik dalam keadaan hidup ataupun mati.

NICA melakukan pengejaran terhadap Opu Daeng Risaju.

Meskipun Opu Daeng Risaju sudah melakukan persembunyian dari satu tempat ke tempat lainnya, Namun NICA akhirnya dapat menangkapnya ketika dia bersembunyi di Latonro. Akhirnya, tanpa diadili Opu Daeng Risaju dipenjara dan disiksa.

Opu Daeng Risaju meninggal dunia pada tanggal 10 febuari 1964.

Sebagai penghargaan atas jasa – jasa yang dilakukan oleh Opu Daeng Risaju terhadap bangsa dan negara, pemerintah melalui Presiden Republik Indonesia menanugerahkan gelar pahlawan nasional dan tanda kehormatan bintang mahaputra adipradana berdasarkan surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 085/TK/2006 tanggal 3 november 2006.

Sejarah: 2 Pahlawan Wanita Kemerdekaan Indonesia
Menerima Pembuatan Jasa Pembuatan Website / Blog / Web Toko Online Menerima Jasa Pemasaran Online untuk Mendongkrak Penjualan Bisnis Saudara

Info Lebih Lanjut Sini

Mukhofas BauBlogging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *