Penulis Jangan Mengejar Ketenaran Dunia #Nasihat untuk Pribadi dan Para Penulis

cita cita kita yang ingin menjadi penulis sudah pasti dipertanggungjawabkan dan tentu akan menjadi amal kebaikan ataupun amal keburukan ketika sang penulis sudah meninggal dunia.

Andaikan kita menulis hanya bermanfaat untuk kebaikan didunia saja belum tentu menjadi amal jariyah bagi kita di akhirat.
saya takut bila apa yang pernah ditulis semasa hidup didunia tidak memberikan arus amal ketika meninggal nanti.

karena apa yang kita tulis mengajak kepada kebaikan dan terus siapa yang mengikutinya akan memberikan income secara terus menerus.

tapi penulis sekarang sudah tidak mendasarkan untuk memberikan manfaat bernilai akhirat.

penulis ada kalanya melihat trend pasar saja.

“buku apa saja yang dilaris dipasaran?”

biasanya ada penulis yang mau menulis dilihat seberapa larisnya buku itu.

banyak buku bernilai rendah tapi sangat laris di beberapa toko buku dan terjual habis bahkan berkali kali untuk diterbitkan ulang.

kita menulis dari segi memperbanyak amal akhirat berkurang dan mengganggap dengan menulis juga bisa memberi pahala yang tiada putus putusnya.

Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Kematian

Para penghuni kubur tergadai di kuburan mereka, terputus dari amalan shaleh, dan menunggu hari hisab yang tidak diketahui hasilnya. Mereka berada dalam kesepian, hanya ditemani amalnya ketika di dunia.

Dalam suasana demikian, ada beberapa orang yang kebaikannya terus mengalir.

Jasad mereka bersemayam dengan tenang di alam kubur, namun balasan pahala mereka tidak berhenti. Pahala mereka terus berdatangan, padahal mereka terdiam dalam kuburnya, menunggu datangnya kiamat. Sungguh masa pensiun yang sangat indah, yang tidak bisa terbeli dengan dunia seisinya.

Dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعٌ يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا ، أَوْ أَجْرَى نَهْرًا ، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا ، أَوَ غَرَسَ نَخْلًا ، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا ، أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا ، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

“Ada tujuh amalan yang pahalanya tetap mengalir untuk seorang hamba setelah dia meninggal, padahal dia berada di dalam kuburnya: (1) orang yang mengajarkan ilmu agama, (2) orang yang mengalirkan sungai (yang mati) (3) orang yang membuat sumur, (4) orang yang menanam kurma, (5) orang yang membangun masjid, (6) orang yang memberi mushaf al-Quran, dan (7) orang yang meninggalkan seorang anak yang senantiasa memohonkan ampun untuknya setelah dia wafat.” (HR. al-Bazzar dalam Musnadnya 7289, al-Baihaqi dalam Syuabul Iman 3449, dan yang lainnya. Muhammad Nashiruddin Al-Albani menilai hadis ini hasan).

Sudah saatnya kita bersemangat menanam investasi pahala selama masih di dunia. Karena masa hidup di dunia  adalah kesempatan yang Allah jadikan tempat beramal. Untuk masa yang lebih abadi di setelah wafat.

sungguh betapa bodohnya kita meniatkan menulis bukan tujuan ibadah untuk mengharap ridho Allah.

saya takut bila yang ditulis mendatangkan siksa dan murkaNya.

semoga bermanfaat
bagaimana menurut Anda?

9 thoughts on “Penulis Jangan Mengejar Ketenaran Dunia #Nasihat untuk Pribadi dan Para Penulis

  1. Ah, saya ndak ngejar ketenaran dunia sudah tenar kok… *halah*
    Mmm… kalo saya sih sebenarnya ngeblog suka-suka. Kalo suka ya silahkan dibaca, kalo ndak ya silahkan diclose aja. *ups*

    Nggak kok, saya cuma ngeblog karena semangat “sampaikan walau hanya satu ayat” itu tidak mulu ayat agama. 🙂

  2. Setuju dengan menulis dengan tujuan ibadah.
    Sayangnya, banyak yang memahami “menulis dengan tujuan ibadah” itu berarti: nggak dibayar ya sudah ikhlaskan saja, diplagiat ya biarin ikhlaskan saja, dibajak ya nggak apa-apa ikhlaskan saja”.

    Membiarkan orang menginjak hak kita (tidak membayarkan hak kita), membiarkan orang berbuat zalim dan kriminal (memplagiat, membajak), apa bukan berarti kita membiarkan orang lain terus sesat? 🙂

    Tetap semangat menulis ya berkualitas yaaa 🙂 Dan jangan lupa beli novel-novelku #Eeehhhh 😀

    • Hai retnk A

      Sebuah masukan yang luar biasa.. Saya juga setju dengan hal diatas.

      Bila karya kita didholimi kita harus melawan juga. Karena mereka salah dalam mengadopsi hak kita.

      Insya allah mbak kalo punya sedikt rezeki hehe

  3. Menjadi seorang penulis itu memang bukan tugas mudah. Seorang penulis dituntut menjadi person yang kreatif, inspiratif dan informatif agar pembaca punya kesan sendiri dengan membaca tulisan-tulisan yang ditulis oleh para penulis.

    Jaman sekarang banyak penulis yang menggunakan tulisan mereka untuk saling diadu siapa yang lebih tenar, tanpa menikmati hasil tulisannya sendiri.

    Menjadi penulis yang tenar memang impian seorang penulis, tapi apakah tulisannya cukup baik? Tidak semua.

    Tetapi, banyak penulis Indonesia yang unik, mereka punya cara yang unik dalam menulis dan menuangkannya dalam bentuk novel dsb. Kita juga tidak bisa menyalahkan ketenaran seseorang, karena tidak mungkin ia tenar, jika tulisannya tidak menarik, bukan?

    Tetapi yang menjadi masalah adalah, kebanyakan tulisan yang menarik itu kurang kualitas, sedangkan hampir semua buku yang berkualitas justru dinilai tidak menarik.

    Yang salah siapa? Penulisnya. Kenapa? Karena penulis harus membuat tulisannya dengan kata-kata sederhana tetapi menarik. Cmiiw ^^

    • Dhede

      Sungguh sharing yang amat mengagumkan. Sungguh sangat mengena sekali.

      Sya juga salut dengan mbak dhede..

  4. Menulis itu perjuangannya berat mas, soalnya bernilai ibadah.

    Karena gak sedikit yang gak ngerti tentang konsep dasarnya, maka nulis asal, blepotan sana-sini, comot sana-sini tanpa kejelasan dan apresiasi pada yang lain.

    Semoga nggak terjadi di blog ini, dan terus berkarya mas.

    Penulis nggak sendiri, banyak temen diluaran sanayang juga pengen dapet pencerahan tentang penulisan.

    Salam Blogger mas. Jangan lupa yah, bagi-bagi terus ebooknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *