Sejarah Organisasi Islam Muhammadiyah dari Waktu Ke Waktu (Masa Ke Masa)

Apakah kamu punya blog dan pengen bergabung di komunitas para blogger telegram? Saya akan memberitahu kamu tautan grup telegram beserta linknya untuk bisa join.

1. BauBlogging Community

Tautan Telegram 1

2.  Blogger Indonesia

Tautan Telegram 1

3. Blogger Indonesia

Tautan Telegram 1

4. Blogger Hugo

Tautan Telegram 1

5. Blogger Indonesia Lagi

Tautan Telegram 1

6. Blogger Indonesia Lagi

Tautan Telegram 1

7. Blog Personal

Tautan Telegram 1

8. Wordpress Indonesia

Tautan Telegram 1

9. Wordpress Semarang

Tautan Telegram 1

10 Google Adsense Indonesia

Tautan Telegram 1

Perjuangan indonesia dari sebelum merdeka hingga setelahnya tak lepas dari peranan sejumlah organisasi islam, termasuk Muhammadiyah. Secara historis, gerakan yang berdiri sejak tahun 1912 ini mempunyai jasa yang tak bisa  dipandang sebelah mata. Berikut perjalanan Muhammadiyah dari Masa ke masa yang sejak 18 november 2017 berusia 105 tahun.

18 november 1912

Kiai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Namun pada waktu itu, Muhammadiyah belum didaftarkan  secara resmi kepada pemerintah Belanda sebagai organisasi di wilayah hindia belanda.

20 desember 1912

Kiai Ahmad Dahlan mengiri Statuten Muhammadiyah atau anggaran dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912, yang kemudian disahkan oleh guberneur jendral belanda. Dalam Statuten Muhammadiyah yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan tanggal miladiyah yaitu 18 november 1912, tanpa mencantumkan tanggal hijriyah.

22 agustus 1914

Guberneur jendral mengesahakan Statuten Muhammadiyah dengan surat ketetapan pemerintah No. 81 tanggal 22 agustus 1914. Belanda khawatir dengan perkembangan pesat organisasi tersebut sehingga memberikan izin organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta.

7 mei 1921

Kiai Ahmad Dahlan kembali mengajukan permohonan kepada pemerintah Belanda. Permohonan itu ditujukan agar Muhammadiyah memperoleh izin untuk mendirikan cabang – cabang di seluruh wilayah Hindia Belanda.

2 september 1921

Pemerintah belanda waktu itu mengabulkan permohonan dari Kiai Ahmad Dahlan untuk membentuk cabang Muhammadiyah di seluruh wilayah Hindia Belanda. Ini menjadi langkah awal Muhammadiyah semakin dikenal luas oleh kalangan masyarakat.

12 april 1922

Dibentuk bagian Aisyiah atau Muhammadiyah Istri yang bertanggung jawab dalam kegiatan khusus kaum wanita.

15 febuari 1923

Kiai Ahmad Dahlan dibantu Kiai Suja’ merintis rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. PKU Muhammadiyah awalnya didirikan berupa klinik sederhana di kampunhg Jagang Notoprajan Yogyakarta. Awalnya bernama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dengan maksud menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum Dhuafa’

PKU Muhammadiyah ini didirikan atas inisiatif Kiai Suja’ yang didukung sepenuhnya oleh Kiai Ahmad Dahlan. Seiring dengan perkembangan zaman, PKO berubah menjadi PKU (Pembina Kesejahteraan Umat)

23 febuari 1923

Kiai Ahmad Dahlan menghembuskan nafas terakhirnya. Meski demikian, pergerakan Muhammadiyah tidak berhenti sampai disitu . Muhammadiyah tetap eksis dengan beberapa tokoh penerus.

30 maret 1923

Muhammadiyah mengadakan musyawarah tahunan anggotanya yang dipimpin Kiai Ibrahim. Pada kesempatan itu, sejumlah persoalan dibahas. Dari masa depan organisasi hingga memilih pemimpin sepeninggal Kiai Ahmad Dahlan. Seluruh anggota sepakat untuk mengangkat Kiai Ibrahim sebagai penerus Kiai Ahmad Dahlan.

10 januari 1926

Muhammadiyah bersama organisasi islam yang lain mengadakan Kongres Islam di Surabaya. Pada waktu itu, diputuskan penyatuan tanggal bagi seluruh organisasi islam untuk urusan surat meyurat. Kongres itu juga menetapkan H.O.S Cokroaminoto dari Syarikat Islam dan Kiai Mas Mansur dari Muhammadiyah sebagai utusan untuk menghadiri kongres islam internasional di mekkah.

28 oktober 1928

Pemuda – pemudi dari berbagai organisasi islam, termasuk muhammadiyah, menggelar sumpah pemuda II sebagai lanjutan dari dua tahun sebelumnya (sumpah pemuda I). Pada kesempatan itu diputuskan, Indonesia dengan satu bahasa, Indonesia dengan satu bangsa, Indonesia dengan satu tanah air.

28 febuari 1929

Muhammadiyah mengirim putra – putri lulusan sekolah – sekolah Muhammadiyah (Mu’allimin, Mua’llimat, dan Tabligh School, dan Normaalschool) ke seluruh pelosok tanah air, yang kemudian dikenal sebagai anak panah muhammadiyah

14 – 26 1930

Untuk pertama kalinya muhammadiyah mengadakan kongres luar biasa di pulau jawa, yaitu Minangkabau sumatra barat. Penunjukan Minangkabau sebagai tuan rumah pelaksanaan kongres diawali dengan kunjungan Haji Fachrodin (1927) dan M. Yunus 1928) telah membawa opini baru bagi pemetaan kekuatan bahwa muhammadiyah tidak lagi sebatas hanya ada di jawa, melainkan sudah menyebar ke ranah minang.

Hal ini kekuatah kedua setelah yogyakarta. Percepatan dan perkembangan muhamadiyah di minangkabau dalam pandangan Haji Fachrodin setelah melihat pergerakannya di minangkabau mendorongnya untuk membawa kongres muhammadiyah ke minangkabau.

2 mei 1932

Muhahmmadiyah mendirikan gerakan pemuda

13 oktober 1932

Ketua Muhammadiyah, Kiai Ibrahim menghembuskan nafas terakhir pada usia 58 tahun di yogyakarta. Kiai Ibrahim adalah putra kiai Fadil Rachmaningrat, seorang penghulu hakim negeri kasultanan Yogyakarta pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dan ia adalah adik kandung dari Nyai Ahmad Dahlan.

1 maret 1945

Badan penyelidik usaha persiapan kemerdekaan indonesia(BPUPKI) tiga tokoh Muhammadiyah yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, dan Abdul  Kahar Muzakkir menjadi anggota BPUPKI.

7 november 1945

Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi) terbentuk. Tokoh – tokoh muhammadiyah menjadi bagian penting dari partai yang dibubarkan padsa tahun 1960

21 – 26 desember 1950

Muhammadiyah menggelar muktamar I di yogyakarta. Muktamar ini mendapat sambutan luar biasa dari tokoh – tokoh muhammadiyah karena selama 10 tahun mereka hampir tidak pernah bertemu di forum resmi yang bersifat nasional. Hadir dalam muktamar itu 83 cabang dan 97 ranting.

3 april 1952

Tokoh muhammadiyah, Kiai Faqih Usman dipercaya kembali sebagai menteri agama pada masa kabinet wilopo di zaman Orde Lama untuk masa bakti 3 april 1952 – 1 agustus 1953.

24 – 26 agustus 1957

Muhammadiyah menggelar sidang majelis tanwir di yogyakarta dengan mengambil keputusan : pertama, menugaskan untuk menggerakkan aparatnya denga  cara – cara yang sesuai bidangnya masing – masing dengan berpedoman pada khittah muhammadiyah serta mengindahkan saran dan sambutan –sambutan yang diberikan dalam sidang tanwir; kedua, menugasi buya hamka dan bustami ibrahim untuk menulis risalah khusus guna menghadapi paham atheis; ketiga, mengajak para ulama, pemimpin islam dan cendikiawan muslim agar memberikan pendapat tentang cara – cara memelihara  umat dari memgatasi bahaya atheisme.

24 – 28 1960

Muktamar II  pemuda muhammadiyah di yogyakarta memutuskan terbentuknya ikatan pelajar muhammadiyah (IPM) sebagai organisasi resmi pelajar muhammadiyah.

18 juli 1960

Ikatan pelajar muhammadiyah (IPM) resmi terbentuk sebagai bagian keputusan muktamar II pemuda muhammadiyah setahun sebelumnya.

27 januari 1964

Buya Hamka ditangkap dan dipenjara.

14 maret 1964

Ikatan mahasiswa muhammadiyah (IMM) resmi terbentuk.

16 agustus 1965

Badan kordinasi amal muslimin terbentuk. Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi pendukung utama di antara 16 organisasi yang tergabung dalam badan itu.

15 agustus 1966

Buya Hamka dibebaskan dari penjara. Soekarno mengatakan dalam biogarfinya yang ditulis oleh Cindy Adams Muhammadiyah menggelar sidang tanwir di depasar, menyepakati perlunya muhammadiyah menyiapkan kader terbaiknya sebagai pemimpin nasional  (khttah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara). ”Yang senintiasa menjadi keinginanku ialah agar peti matiku diselubungi dengan panji islam muhammadiyah” (hal 145)

17 maret 1995

Kiai Fachrudin meninggal di solo. Ia adalah salah satu tokoh yang menjabat paling lama sebagai ketua umum muhammadiyah (1968 – 1990). Pada masa jabatannya, muhammadiyah berkembang pesat. Atas saran jendral sarbini, muhammadiyah di masa jabatan kiai Fachrudin, termasuk organisasi yang dekat dengan pemerintah Soeharto.

11 juli 2000

Pada muktamar muhammadiyah ke – 44 di jakarta, Prof. Ahmad Syafii Maarif ditunjuk sebagai ketua umum muhammadiyah menggatikan Drs. Amien Rais

24 – 27 januari 2002

Muhammadiyah menggelar sidang tanwir di depasar, menyepakati perlunya muhammadiyah menyiapkan kader terbaiknya sebagai pemimpin nasional  (khttah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara).

26 – 29 juni 2003

Muhammadiyah menggelar sidang tanwir terakhir sebelum pemilu 2004.

8 juli 2005

Prof. Din Syamsudin ditunjuk sebagai ketua umum muhammadiyah yang baru menggantikan Prof. Ahmad, Syafie Ma’arif. Din ditunjuk pada muktamar muhammadiyah ke 45 di malang.

8 juli 2010

Muhammadiyah menggelar muktamar ke – 46 di yogyakarta. Salah satu kesepakatan dari muktamar itu memutuskan kembali Prof. Din Syamsudin sebagai ketua umum muhammadiyah.

6 agustus 2015

Muhammadiyah menggelar muktamar ke – 47 di balai sidang kampus Unismu Makasar provinsi Sulawesi Selatan. Hasil muktamar itu memutuskan Dr. Haedar  Nashir sebagai ketua umum Muhammadiyah periode 2015 – 2020  

 

Asal Usul nama Muhammadiyah

Dalam catatan Adaby Darban, Ahli sejarah UGM kelahiran Kuaman Yogyakarta.

Nama Muhammadiyah pada Mulanya diusulkan  oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kiai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu. Dia adalah ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian jadi penghulu keraton.

Usulan Sangidu diputuskan Kiai Ahmad Dahlan setelah melakukan Istikharoh (Darban, 2000 : 34)

Kontribusi Muhammadiyah untuk Umat dan Bangsa Indonesia

Pembaruan pendidikan

Pembaruan pendidikan yang menggabungkan pendidikan islam yang mengajarkan  ilmu agama islam dan pendidikan modern (belanda) mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Sekolah yang dirintis dan didirikan Kyai Ahmad Dahlan bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah

Pembaruan Kesehatan

Pembaruan Kesehatan dengan dirintis dan didirikannya Rumah Sakit PKU di Yogyakarta oleh Ahmad Dahlan atas Ide Kyai Suja’

Nama awalnya PKO (Penolong Kesengasaraan Oemoem

Tambahan

Soekarno Tokoh Muhammadiyah kata Anhar Gonggong (Sejarawan)

 

Sumber diambil dari Koran Republika tertanggal 19 november 2017

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *