Membayangkan Air Selokan Seperti Fenomena Laut

kemarin mau nulis banyak hal disini. ide buat nulis kemarin banyak banget seperti

Mengenal Ikatan Mahasiswa MTA yang berada dibawah naungan Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur’an dan menulis pengalaman menghadiri acara walimahan sepupuku dan tidak sempat.

akhirnya hari ini nulis tentang berangkat ke ladang di jaten pada sekitar jam 1 malam bersama ayah.

yang sebelumnya baru pulang kulakan roti hingga jam 12 malam. aku cuma menemani saja. yang aku lakukan disana cuma tidur.

ditengah pekatnya malam itu aku cuma tidur dalam mobil untuk ke ladang.

rencananya yang bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1437 H atau bertepatan puasa arofah bagi yang tidak haji dan wuquf di arofah.

sahur di kedai buka malam yang dekat dengan daerah situ.

sahur hanya mie rebus telur bersama dengan teh celup sariwangi dengan citra rasanya yang khas ketika dicicipi.

habis sahur kembali lagi ke ladang dan aku kembali tidur, ternyata ayahku terfokuskan menyalakan diesel air untuk menyedot air ke ladang yan kering karena memang musim kering.

sholat shubuh pun juga disini. bukan tinggal di gubuk, tapi di perumahan bekas kapling yang tanahnya dijual hingga sekarang belum ada pembelinya.

paginya setelah matahari  mulai menampakkan senyumnya mulailah aku dan ayah menyirami ladang ladang dari air sedotan diesel tadi malam sebelum shubuh.

tentu saja menyiramnya dengan semangat tanpa kenal lelah. jika pun lelah hanya karena badan yang pegel karena kebanyakan  membungkuk pasti harus beristirahat.

sampai siang pun juga belum selesai sehingga matahari semakin naik semakin menunjukkan senyum yang sadis.

tapi tetap aku dan ayah menyirami tanaman yang belum kena jatahnya.

panas panasnya sinar matahari membuat kehausan dan badan terlihat tidak seimbang kayak orang pingsan saja.

baru sekitar jam 11,30 aku lebih dahulu untuk menyudahi acara menyirami bunga kol yang mulai tumbuh remaja yang belum selesai sepenuhnya.

aku kembali ke rumah kavling.

ayah menyusul dan aku duluan ke rumah itu. baru beberapa menit kemudian ayah datang dan menyuruhku untuk mengambil buah semangka di ladang ladang yang lain yang lebih dulu ditanami bunga kol dan tentu sudah panen lebih dulu.

hawa siang memang luar biasa panas, tapi aku harus mencari buah semangka yang besar besar untuk dibawa pulang.

setelah dari itu aku mandi di kamar mandi, sebab di rumah kavling yang tidak berpenghuni itupun terdapat kamar kamar kosong dan kamar mandi layak pakai yang tidak dikunci. sehingga mandi pun bisa. untuk airnya diambil dari air yang disedot oleh diesel air itu.

selesai mandi sholat jamak dhuhur dan ashar.

yang rencana awalnya langsung pulang harus bertolak ke solo untuk kulakan roti jenis semir, meses dan pisang coklat di semanggi solo jalan kyai mojo yang ada gapura megah peninggalan kerajaan surakarta masa lalu.

baru setelah usai kulakan ini pulang ke rumah di jumantono karanganyar.

sampai rumah

sampai rumah langsung mengambrukkan diri ke alas tidur karena beban sudah tidak kuat karean hari ini adalah puasa sunnah di bulan haji.

aku tidak tahu sampai jam berapa menikmati tidur pada siang hari. bahkan liat jam ternyata masih jam 15.45

pas liat jam itu aku kembali lagi ke tempat tidur hingga adzan maghrib menjelang. tanpa sadar ibu sudah berada dihadapanku membawa sebuah pepaya untuk berbuka puasa.

inspirasi

ketika mengamati di selokan berisi air yang disedot dari sumur sumur ladang itu aku mengamati dan membandingkan dengan kehidupan didalam laut dalam.

aku membayangkan didasar selokan yang tekstur naik turun seperti lereng lereng pegunungan itu sma dengan kondisi bawah laut yang gelap.

tapi untuk dasar selokan itu bisa dilihat dengan mata kita dengan bening. andaikan ada ikan ikan kecil yang banyak di selokan itu hampir sama dengan fenomena laut pada aslinya.

diatas air membayangkan ember sebagai kapal atau perahu yang berjalan.

seolah olah memang ada kemiripan diantara keduanya untuk diambil hikmahnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *