Kiprah Menulis dan Sebuah Proses

mau sedikit berbagi pengalaman tentang yang berkaitan soal tulis menulis.

tidak tahu sejak kapan diriku mulai suka menulis.

mungkin menulis adalah paksaan. yang mana bila dipaksa akan berujung menjadi sebuah kebiasaan rutin sepanjang masa.

tidak semua individu dianugerahi untuk bisa menulis. 

sebenarnya setiap orang punya bakat menulis yang terpendam. sejatinya tidak sadar bahwa dirinya memang berbakat untuk bisa menulis.

bila dirunut kebelakang aku mulai menulis ketika masih sekolah dasar MI, misalnya menulis materi pelajaran yang ada dipapan tulis untuk dicatat di buku tugas.

sadar atau tidak hal seperti itu berarti membuktikan bahwa kita memang bisa untuk menulis.

tapi untuk penulis pemula mungkin hal seperti ini tidak benar benar terbersit dipikirannya.

bila sadar dan merenungkan akan hal seperti bukti kecil bahwa kita bisa menulis dan bisa menghasilkan karya sederhana. misalnya hanya sekedar tulisan fiksi diatas sobekan kertas.

bila kertas yang pernah kita tulis itu tidak hilang tersimpan rapi dilemari, kumpulan buku buku bekas digudang.

dan andaikan yang menulis itu sudah wafat. gudang gudang itu dibersihkan dan teliti satu persatu ada karya atau sekedar sobekan kertas usang. dari sini hal sepele tulisan yang pernah kita tulis dimasa lalu bisa jadi akan diarsipkan dan dikumpulkan menjadi buku.

memang. tulisan sepele, jelek menurut kita itu memang benar benar jelek, tapi saat kita wafat tulisan bongkahan akan menjadi sebuah karya besar. dan itu terjadi bila tuhan benar benar menghendaki akan benar benar terjadi.

baiklah.

jujur saja saya menulis sekedar iseng iseng saat masih bersekolah menengah pertama. tulisannya mungkin tidak bagus menurutku, tapi bisa jadi bagus menurut teman teman. dan kertas itu sudah tidak ada. andaikan itu disimpan dan dirawat baik baik hingga hari ini mungkin akan aku abadikan dengan discan atau menulis ulang di layar monitor dan tetap akan abadi tulisan itu.

tapi sayang, pemikiran seperti ini belum muncul ketika itu. disamping itu mulai gemar membaca secara giat ya sejak sekolah menengah pertama ketika mampir keperpustakaan sekolah.

buku yang dibaca rata rata fiksi terbitan yang dibawah pengawasan pemerintah. aku tidak tahu persis.

di SMP pula kesadaran menulis belum secara total karena menulis bukan passioan atau keinginan mulia saat itu. cuma sekedar penikmat bacaan saja.

ketika sekolah menengah atas, aku lebih sering membaca buku diperpustakaan sekolah hampr setiap minggu dan itupun tidak pernah absen. hampir setiap istirahat pun juga menyempatkan untuk membaca koran disana.

disini pertama kali aku membaca novel novel cerdas yang bisa membangkitkan semangat dan motivasi seperti mereka. sebut saja mereka A. Fuadi, Asma Nadia, dan siapa lagi.

tidak hanya membaca fiksi saja, tapi juga buku buku non fiksi yang bisa menambah wawasan berpikir dan mampu merubah sikap yang sebelumnya tidak tahu apa apa menjadi orang yang tahu akan segala macam yang ada didunia ini.

mulai aku menulis karena paksaan pihak sekolah yang mengadakan acara bulan bahasa setiap bulan oktober mau tidak mau yang sebelumnya tidak ada waktu senggang untuk menulis dipaksa berpikir hal apa yang mau disampaikan.

ini berlaku untuk seluruh warga sekolah dan hasil tulisan tangan itu dipajang dihalaman sekolah dari depan hingga belakang dari kanan kekiri. ibaratkan kertas yang dijemur seperti baju. yang mana setiap siswa membaca tulisan karya teman teman itu. dan aku sendiri mencari dimana tulisanku diantara ratusan judul tulisan karya warga sekolah itu.

bagiku ini salah satu kesan berharga yang ditanamkan guru untuk suka dunia tulis menulis sebagai jalan dakwah yang bisa menghiasi media media besar ketika sudah lulus nanti.

pengalaman menulis yang seperti bulan bahasa itu terus berlanjut di bulan bahasa tahun berikutnya. dan aku berpartisipasi didalamnya hingga lulus.

ketika memasuki kelas 3 SMA guru bahasa indonesia mengadakan latihan menulis biografi teman teman sebangku sendiri sebagai sarana untuk berlatih menulis dan hasil tulisan itu juga dipajang seperti pada bulan bahasa.

berlatih menulis cerpen dan resensi sebagai nilai ujian praktek. disini aku galau, malas, tidak semangat karena tugas yang makin berat. gurunya bilang mau tidak mau harus, karena ini akan menjadi bekal ketika sudah lulus nanti dan apa kata sang guru itu memang ada benarnya.

guru guru sekolah menengah atas benar benar sabar dan hebat dalam mendidik anak didiknya walaupun siswa siswanya sulit diatur.

dan lebih dari itu guru guru memang begitu peduli dengan akhlak akhlak yanga ada pada muridnya.

ada pada suatu ketika guru bahasa inggris ketika les tambahan dikelas menanyai teman teman yang hadir dalam les tambahan bahasa inggris itu yang menanyai tentang hobi, tak ketinggalan aku juga ikut ditanyai

“putra apa hobimu?” ujar pak guru menanyakanku

aku bingung dan gugup serta manggut saja tentang apa hobiku

aku menjawabnya “hobiku membaca buku pak”

dan beliau memberi masukan cerdas yang dampaknya di masa yang akan datang.

jadi guru bahasa inggrisku itu telah mensugesti untuk menulis, menulis, menulis dan menulis. apa jadinya kalau suka membaca buku tanpa diikat ilmunya? aku kira akan merugi.

jadi itu beliau menyarankan untuk menulis dan berlatih berlatih sedari sekarang. yang sebenarnya tidak suka menulis menjadi suka. bisa karena amanat beliau, motivasi, inspirasi yang telah beliau sampaikan kepada anak didiknya. luar biasa sekali, seorang guru memberikan ilmu yang dapat dipetik untuk jangka panjang.

dan ini mungkin akan menjadi pengalama berharga buatku.

disamping itu sejak saat itu mulai banyak membaca buku di toko buku yang aku singgahi seperti toko buku gramediam togamas, sekawan hingga pameran buku buku yang ada di daerahku.

untuk meningkatkan pemahamanan tentang kepenulisan aku memutuskan untuk membeli buku untuk menambah gambaran gambaran tentang dunia kepenulisan.

di gramedia dan mana saja pun menyempatkan membaca buku kepenulisan, ada yyang harus dibaca disana dan ada juga yang harus dibawa pulang.

aku sadar ini bukan untuk sekarang tapi masa yang akan datang.

dan sehabis lulus SMA, aku memutuskan untuk membuat blog sebagai sarana untuk menulis gagasan, opini, atau sekedar coret coret saja.

aku masih ingat tentang pertama kali membuat blog yang kedua kalinya. dimana blog masih kacau atau belum sempurna dan tulisanpun masih sekedar copas saja. setelah enam bulan aku memutuskan untuk tidak copas lagi.

dan sejak tahun 2014 kuartal pertama mulai belajar menulis secara konsisten dan membaca buku yang berhubungan dengan topik yang harus aku kuasai seperti kepenulisan, blogging, sejarah, dan lain lain.

apa yang aku ingat ketika masih di SMA diingat lagi sebagai penyemangatku ketika semangat menulis luntur.

biar aku tetap semangat menulis dan blogging memutuskan untuk bergabung dengan grup kepenulisan dan grup blogging yang ada di facebook.

dengan adanya teman teman blogger yang suka menulis, maka sebisa mungkin menjaga semangat serta menjaga konsistensi dalam menulis dan blogging untuk terus menerus berjuang dalam hal ini.

ada kalanya berhenti menulis karena tidak ada ide, sibuk, malas, lebih memilih yang lebih nyaman daripada melaksanakan, banyak mengkhayal tanpa ada realisasi, dan ngobrol ngobrol yang tidak jelas dengan teman, keluarga sehingga menulis dan blogging terabaikan sudah. jadi sia sialah karena hari hari habis untuk hal tiada guna.

bila seperti itu tidak dirubah dan tetap berlanjut, maka menulis dan blogging akan ngelantur tidak jelas.

jadi menulis itu pentingnya istiqomah (bertahan) untuk tidak menyerah. bisa karena tidak sedang mood, tidak ada ide, tidak punya laptop, tidak ada jaringan internet untuk mendukug kreativitas menulis.

menulis itu sebuah proses jangka lama. kita tidak tahu samapi sampai kapan tulisan bisa bagus? kita akan tahu jawabannya ketika proses proses panjang itu melewati dan akan nampak hasilnya dihari yang akan datang. kita tidak tahu kapan.

bila melihat pengalamanku yang telah lalu soal menulis dan blogging semua pasti ada suka dan dukanya. dan hal seperti ini termasuk proses menempa untuk menjadi seorang penulis dan blogger handal.

maka dari itu belajarlah dari pengalaman sebelumnya untuk evaluasi yang akan datang, pertambah hal hal yang harus dikuasai, banyak membaca, banyak praktek dan lain lain.

sejatinya menulis itu gabungan antara melihat, mendengar, membau, meraba, merasai hingga pikiran dan hati berbicara. menulis adalah seni dari pola dari panca indera. maka maksimalkan semua itu untuk benar benar bisa menulis yang banyak, cerdas, berkualitas.

pengalaman lain berlatihg menulisku adalah dengan membaca dan melihat gaya menulis orang lain yang aku temui semisal buku atau artikel artikel dari para blogger yang telah berbagi gagasan dan pengalaman lainnya.

aku meniru gaya mereka dengan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) tidak takut untuk mencoba gaya mereka untuk diterapkan dalam cara menulisku.

dengan banyak membaca lama lama tahu bagaimana gaya menulis setiap individu dalam menuangkannya.

untuk bisa menghasilkan ciri khas menulis kita, ya harus berlatih berlatih dan orang orang yang membaca tulisan akan tahu seperti apa gaya kita. sadar atau tidak sadar semua itu adalah sebuah proses aktualisasi berfikir kita. positi atau negatif.

karena aku ketika di SMA dulu orang yang tinggal diasrama, seringkali kali menulis banyak banyak ide yang berkeliaran secara liar dipikiran untuk ditulis di selembar kertas sebanyak banyak untuk diperdalam lagi ketika ada waktu.

catatan ide ide ketika SMA itu masih tersimpan rapi. bahkan kertas surat izin sakit pun pernah buat coret coret untuk menulis ide itu. baik di sekolah maupun diasrama.

sungguh nikmat yang tidak kita sadari, bahwa menulis sebuah paksaan dan kebiasaan yang berulang ulang. sebagiamana kita sholat wajib sehari 5 kali sebuah paksaan yang berulang ulang menjadi kebiasaan rutin.

berlaku pula dalam berbagai aktivitas termasuk menulis, blogging, menanam dan lain lain.

tetaplah samangat dan jalani semua prosesnya.

10 thoughts on “Kiprah Menulis dan Sebuah Proses

  1. Kalau aku mulai suka menulis sih baru-baru ajah mas, soalnya dulu masih bimbang dan nggak bisa fokus nulis. Emang dengan menulis itu kita bisa mengekspresikan semua pikiran kita. ^_^ Terkadang kalau lagi di depan lapi ampe bingung mau nulis apaan, padahal kalau lagi santai gitu masih banyak pikiran yang perlu diutarakan.

  2. Saya juga suka menulis, sejak dulu mungkin sejak saya SD juga, tetapi masih sederhana dan menulis catatan, terus sampai sekarang, tetapi kadang-kadang rasa malas buat menulis yang membuat saya berhenti menulis kadang lebih suka membaca saja, dan sekarang saya mulai belajar menulis lagi, semoga bisa tetap istiqomah kaya mas putra 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *