KESALIHAN ORANG TUA, MODAL UTAMA

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah:         kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!   
                      
👉 Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak.      Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan
insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”.      Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!                                              
• Beberapa contoh aplikasi nyatanya                                           
Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.                           
Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an,      ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam
gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!                       
Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya.     Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!
Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.                                            
Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.            
Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.                                 
Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!
Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien…                                     
SAMBUTLAH KABAR GEMBIRA! [6]                                                             
Sejauh apapun kita melangkah, ada saatnya umur kita berakhir. Suatu hari nanti Allah akan mengirimkan malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup kita di dunia. Saat itu tangis haru kehilangan akan pecah dari orang-orang yang mencintai kita. Namun, sebesar apapun kecintaan mereka kepada kita, tetap saja mereka tidak akan mau menemani kita di liang kubur. Tinggallah kita dalam kesendirian di sebuah ruang sempit nan pengap, ditemani hewan-hewan tanah. Amalan terputus dan kesempatan menambah pahala telah pupus.                                     
Tetapi, terimalah kabar gembira…                                                  
Wahai para orang tua yang salih, yang semasa hidupnya tak pernah lekang untuk mendidik anaknya hingga tumbuh menjadi generasi yang salih. Bergembiralah, bahwa pahala akan terus mengalir ke tabunganmu, walaupun jasadmu telah lapuk dimakan tanah. Kuburanmu akan terasa lapang dan terang benderang.      
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,                                          
“ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻹِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﺛَﻼَﺛَﺔٍ؛ ﺇِﻻَّ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ، ﺃَﻭْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ، ﺃَﻭْ ﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ ”.
“Jika manusia mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga. (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang bermanfaat dan (3) Anak salih yang mendoakannya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah.                             
Setiap anak melakukan ibadah dan kebajikan, akan selalu mengalir pahala untukmu.       Sebab engkaulah yang mengajarkan kebaikan tersebut padanya. Nabiyullah shallallahu’alaihiwasallam
bertutur,                                            
“ ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ ”.                                                
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya”. HR. Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshary.                                           
Bukan hanya itu, namun juga doa anak salih hasil jerih payahmu akan mengangkat derajatmu di surga. Rasulullah
shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,                                   
“ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻟَﻴَﺮْﻓَﻊُ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺔَ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : “ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ، ﺃَﻧَّﻰ ﻟِﻲ ﻫَﺬِﻩِ؟ ” ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : “ ﺑِﺎﺳْﺘِﻐْﻔَﺎﺭِ ﻭَﻟَﺪِﻙَ ﻟَﻚَ ”.                                                 
“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat hamba yang salih di surga. Ia bertanya, “Wahai Rabbi, apakah yang membuatku (menempati derajat ini?)”. Dia menjawab, “Lantaran doa anakmu yang memohonkan ampunan untukmu”. HR. Ahmad dari Abu Hurairah dan dinilai hasan oleh al-Albany.                                              
Engkaupun akan kembali bersua dan berkumpul dengan mereka di negeri keabadian yang penuh kenikmatan. Di surga ‘Adn! Allah ta’ala
berfirman,                                          
“ ﺟَﻨَّﺎﺕُ ﻋَﺪْﻥٍ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺻَﻠَﺢَ ﻣِﻦْ ﺁﺑَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻢْ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺑَﺎﺏٍ “
Artinya: “(Yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang salih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan keturunannya. Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu”. QS. Ar-Ra’du (13): 23.         
Selamat menyambut kabar gembira tersebut, wahai para orang tua salih yang memiliki anak salih-salihah!                         
HIDAYAH BUKAN DI TANGAN KITA                                                                   
Jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang salih-salihah, maka kita harus berusaha maksimal untuk itu.        Kita wajib mengerahkan segala daya dan upaya yang kita miliki. Siap untuk letih, capai dan lelah untuk mendidik, mengarahkan serta menasehati mereka. Jika itu telah dilakukan, maka bersiaplah untuk memetik buah manis usaha keras kita!                 
Namun, ada satu hal penting yang harus senantiasa diingat. Yaitu hidayah bukanlah di tangan kita. Satu-satunya pemilik mutlaknya adalah Allah ta’ala. Dalam al-Qur’an disebutkan:                                        
“ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﻀِﻞُّ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ”                                               
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS. Fâthir (35): 8.                                              
Sebesar apapun usaha yang kita kerahkan, jikalau Allah tidak berkehendak, maka mustahil keinginan kita akan tercapai. Lihatlah bagaimana manusia paling bertakwa di muka bumi, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam, pun tak kuasa untuk memberi hidayah kepada orang yang sangat beliau cintai; Abu Thalib pamannya. [Baca: QS. Al-Qashash (28): 56].                
Apalah pula kesalihan kita dibanding Nabi Nuh          
‘alaihissalam? Jikalau beliau tidak kuasa memberikan hidayah kepada buah hatinya, bagaimana dengan kita?                
Di saat air bah melanda, beliau masih berusaha keras mengajak anaknya untuk menaiki kapal besar yang dibuatnya. Namun Allah tidak berkenan memberikan hidayah kepada si anak, sehingga justru dengan pongahnya ia menjawab akan menaiki gunung tertinggi. Pada akhirnya ia pun tenggelam dilamun ombak. [Baca: QS. Hûd (11): 42-47].                                               
Putra seorang Nabi yang telah menghabiskan umur hampir sepuluh abad untuk berdakwah, ternyata justru meninggal    dalam keadaan tidak beriman??!    Bukankah ini memberikan pelajaran yang amat dalam bahwa hidayah bukanlah di tangan manusia?
Seluruh keterangan di atas bukan dalam rangka memprovokasi agar kita melempem dalam mendidik anak, bukan! Tidak pula dalam rangka mengajak kita menyerah dengan keadaan, tanpa melakukan usaha maksimal, tidak! Tetapi tulisan ini dituangkan dalam rangka untuk mengingatkan kita semua bahwa ikhtiar belaka tidaklah cukup. Namun harus diiringi dengan sesuatu yang bernama doa dan tawakal kepada Allah ta’ala.                                                   
Usaha tanpa doa merupakan sebuah kesombongan, sedangkan pasrah tanpa usaha adalah sebuah kejahilan.
Maka jangan sampai kita mengandalkan kekuatan diri sendiri semata dan bergantung padanya saja. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam,   
“ ﻳَﺎ ﺣَﻲُّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺃَﺳْﺘَﻐِﻴﺚُ، ﺃَﺻْﻠِﺢْ ﻟِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻲ ﻛُﻠَّﻪُ، ﻭَﻻَ ﺗَﻜِﻠْﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻃَﺮَﻓَﺔَ ﻋَﻴْﻦٍ “                             
“Wahai Yang Maha Hidup dan Maha mengurusi para makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh keadaanku. Dan jangan Engkau jadikan aku bergantung kepada diriku, walaupun hanya sekejap mata”. HR. Al-Hakim dari Anas bin Malik dan dinilai sahih oleh al-Hakim dan adh-Dhiya’ al-Maqdisy.                                          
Maka dari itu selain usaha lahiriah yang kita kerahkan, janganlah pernah melupakan lantunan doa yang senantiasa dipanjatkan ke hadirat Allah ta’ala, terutama di waktu-waktu yang mustajab!                           Penulis: Ustadz abdullah zaen.

diambil dari grup wa As salafy
mau bergabung kontak akh. hasan (+62 817-9395-700)

Ditulis dari WordPress untuk Android

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *