Wisata Sejarah Minahasa: Bertravel atau Menjelajahi Tanah Minahasa

Apakah kamu punya blog dan pengen bergabung di komunitas para blogger telegram? Saya akan memberitahu kamu tautan grup telegram beserta linknya untuk bisa join.

1. BauBlogging Community

Tautan Telegram 1

2.  Blogger Indonesia

Tautan Telegram 1

3. Blogger Indonesia

Tautan Telegram 1

4. Blogger Hugo

Tautan Telegram 1

5. Blogger Indonesia Lagi

Tautan Telegram 1

6. Blogger Indonesia Lagi

Tautan Telegram 1

7. Blog Personal

Tautan Telegram 1

8. Wordpress Indonesia

Tautan Telegram 1

9. Wordpress Semarang

Tautan Telegram 1

10 Google Adsense Indonesia

Tautan Telegram 1

Minahasa merupakan sebuah kabupaten di Sulawesi Utara yang menawarkan wisata alam dan budaya yang begitu kental. Saya berkesempatan menjelajahi Tanah Malesung atas undangan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Dalam perjalanan pada maret ini, bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) pada 17 maret.

Sebelum ikut menghadiri acara peringat tersebut, perjalanan saya dimulai berkenalan dengan salah satu tradisi dan jalan hidup Tou atau orang Minahasa di Wanua Warembungan, Komunitas Tombulu Pineleng. Ada empat etnis besar bagi suku Minahasa,Tountemboan, Tombulu, Toulour atau Tondano, dan Tonsea.

Tempat yang berada sekitar 11 kilometer dari kota Manado ini menjadi wadah untuk berkumpul dan belajar bersama yang dinamakan “Pahumungen ne Waraney” atau Rumah Pertmeuan Para Kestria.

Jika dilihat dari bagian luar, tempat tersebut seperti rumah pada umumnya. Tidak tampak sebagai tempat berkumpulnya orang – orang untuk mempelajari tentang “Nuwu’ I Tu’a” (Etika, Jalan Hidup, Nilai – nilai warisan leluhur) dari para tetua.

Namun, bukan tempatnya yang menjadikan itu spesial, orang – orang yang ada didalamnya menjadi kunci menjaga tradisi. Tempat tersebut hanya sebuah rumah biasa, tempat tinggal Rinto Taroreh yang dipercaya sebagai Tonaas. Gelar tersebut berasal dari kata tou artinya orang dan taas artinya kuat atau cerdas untuk merujuk pada pemimpin suatu kelompok.

Tonaas Rinto adalah sosok yang dihormati dalam masyarakat. Sebab, dia menjabat sebagai pemimpin dan menjadi guru spiritual yang dikenal walian atau penunjuk jalan tradisi. Dua jabatan yang tidak diberikan oleh manusia. Namun, orang Minahasa percaya itu penyandang jabatan itu telah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa dengan perantara tanda – tanda alam.

Dalam perjalanan menjaga tradisi, Tonaas Rinto sadar bahwa ia tidak hanya mengikuti jejak yang sudah ditinggalkan para leluhur. Dia pun harus membuat jalan yang bisa diikuti oleh Tonaas berikutnya. Mengingat tradisi yang mulai tergerus oleh budaya modern, Tonaas Rinto pun memutuskan membangun Sekolah Adat Waraney Wuaya.

Salah satu yang dipelajari di Sekolah Adat Waraney Wuaya merupakan ritual Kawasaran. Banyak orang menyebutnya Kabasaran yang hanya menunjukkan tarian Suku Minahasa. Padahal, mulanya kegiatan itu merupakan hanya ritual dalam berperang. Sebab, Kawasaran berasal dari kata Kawak (lindung) dan Asaran (ikuti orang tua) sehingga Kawasaran bermakna mengikuti ajaran leluhur.

“Sekolah ini sudah berjalan kurang kebih 10 tahun, dan banyak orang dari berbagai penjuru Minahasa bekajar ke sini,” kata Tonaas Rinto.

Pria yang baru berusia 35 tahun itu menjelaskan, Kawasaran merupakan ritual yang gerakan atau lafalnya merupakan doa. Ketika dulu dilakukan untuk peperangan, hanya saja, saat ini lebih sebagai bentuk pembuka jalan bagi ritual adat atau kegiatan.

Untuk melakukan Kawasaran, ada beberapa tahapan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan. Sebelum seseorang bisa melakukan beberapa latihan dan ritual terlebih dahulu untuk membuat hati dan jiwa lurus.

Perlengkapan Kawasaran terdiri atas kain Tenun Minahasa untuk ikat pinggan, paruh burung Taong untuk simbol kebesaran, bulu ayam jantan, tengkorak monyet untuk simbol kehebatan prajurit perang yang berhasil membunuh musuh, dan baju kulit kayu tayapu yang hanya ada di Minahasa. Warna kostum merah, adalah simbol keberanian dengan perlengkapan lainnya, seperti pedang (santi), perisai (kelung), tombak (wengkow).

Tonaas Rinto pun tidak hanya membuat perubahan dengan dengan mengajarkan ritual dan filosofi Kawasaran. Dia memutuskan untuk ikut bergerak dalam menjaga peninggalan leluhur, seperti menata ulang Waruga atau kuburan kuno dan menjaga benda – benda yang ada di dalam Waruga.

Waruga pun menjadi salah satu wisata budaya yang akan mudah ditemui di Tanah Minahasa. Waruga – Waruga biasanya tewrsebar di banyak tempat sehingga sering kali dihancurkan ketika ada proses pembangunan. Untuk menjaganya, Tonaas Rinto mencoba mengumpulkan beberapa dan menjadkannya sebagai tempat belajar sejarah Toa Minahasa.

Salah satu kumpulan Waruga yang diiniasi Tonaas Rinto terletak di Desa Pineleng Dua, Kecamatan Pineleng. Waruga berbentuk dua batu yang saling bertumpuk, dengan batu yang di bagian bawah berbentu kotak dengan ceruk di dalamnya, sedangkan di bagian atas berbentuk segitiga seperti atap rumah.

Mengenali Waruga

Rickson Kaundeng, orang kepercayaan Tonaas Rinto menjelaskan, dulu Toa Minahasa sebelum meninggal sudah terlebih dulu membuat Waruga-nya sendiri. Mereka memahat dan mengangkat batu yang beratnya berpuluh kilogram ke tempat peristirahatan terakhir mereka.

Setiap Waruga pun memiliki bentuk dan terkadang terdapat ukiran. Rickson menjelaskan. Jika orang tersebut menjadi panglima perang dan terkuat, akan ada ukiran gambar orang dengan membawa pedang dan menenteng kepala manusia.

Ada pula Waruga yang polos tanpa ukiran, tapi memiliki nilai andil dalam sejarah dari cerita turun temurun. Contohnya, salah satu Waruga milik Masahiri Parengkuan. Dia sosok yang dekat dengan Tuanku Imam Bonjol.

Rickson menceritakan, ketika pahlawan nasional bernama asli Muhammad Shahab diasingkan di tanah Minahas, Masahiri Parengkuan yang menjadi jaminan untuk menjaga nyawanhya dari desakan tentara Belanda.

“Tradisi orang Minahasa sejak dulu, kalau kita tahu di rumahnya, kita akan dijaga dan dijamin nyawanhya,” ujar Rickson.

Menjenguk Tuanku Imam Bonjol

Makam Tuanku Imam Bonjol pun tidak terlalu jauh dari lokasi Waruga – Waruga tersebut. Makam pahlawan nasional itu terdapat di Jalan Pineleng – Kal, Desa Lotta, salah satu obyek wisata populer bagi pengunjung dari luar wilayah Sulawesi Utara.

Menurut penjaga makam Abdul Mutallib, pengunjung mancanegara pun sering kali mampir untuk melihat tempat peristirahatan terakhir pahlawan nasional itu.

Selain masyarakat biasa, sejumlah tokoh – tokoh penting di pemerintahan menyempatkan berkunjung makam Tuanku Imam Bonjol. Abdul Mutallib, menjelaskan, Presiden Indonesia keempat Abdurahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah mampir ke makam berada di dalam bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau berukuran 15 x 7 meter.

“Beberapa sanak saudara beliau pun kadang masih ke sini untuk menengok,” kata Abdul.

Ketika memasuki bangunan makam Tuanku Imam Bonjol, kita langsung berhadapan dengan sebuah makam dengan berbatu nisan lebar. Tulisan di batu nisan itu cukup menjelaskan tokoh yang dimakamkan. “Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional. Lahir tahun 1774 di Tanjung Bungo / Bonjol Sumatra Barat, wafat tanggal 6 November 1854 di Lota Minahasa, dalam pengasingan pemerintah kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan Tanah Air, Bangsa, dan Negara”.

Sebuah relief besar di dinding sebelah menjadi cukup menarik perhatian saat pengunjung berada di dalam ruangan. Relief itu memperlihatkan Tuanku Imam Bonjol sedang menunggang kuda dan bersiap untuk menyerang.

Jika ingin melihat tempat Tuanku Imam Bonjol melaksanakan Shalat, pengunjung bisa melangkahkan kaki ke samping bangunan untuk menuruni tangga menuju pinggir sungai. Sesampai di ujung tangga, akan terlihat bangunan berwarna biru bertuliskan “Tempat Ibadah Tuanku Imam Bonjol” yang bersebelahan dengan sungai yang mengalirkan air cukup deras.

Di tempat tersebut di bagi menjadi dua bagian. Di sebelah kanan terdapat ruangan yang berisikan sebuah batu besar yang dulu digunakan ulama itu untuk menunaikan shalat. Bagian yang lain bisa digunakan pengunjung yang ingin bershalat. Pengunjung bisa merasakan shalat dengan iringan suara arus sungai yang deras.

Jejak Perjuangan di Benteng Moraya

Setelah menikmati wisata spiritual, saya menjelajahi monumen yang begitu terkenal di Minahasa, yaitu Benteng Moraya. Tempat yang berada di Tondano Utara ini tempat bersejarah bagi masyarakat Minagasa. Meski jejak bentuk benteng itu tiada lagi, bukti – bukti sejarah yang tersisa masih tersimpan di sana.

Ketika menginjakkan kaki pertama kali di lokasi yang tepat di sisi Danau Tondano itu, tulisan besar Benteng Moraya berwarna merah langsung menyambut di depan. Tepat di belakangnya, berdiri 12 pilar yang terdiri atas enam pilar saling berhadapan memperlihatkan ukiran – ukiran gambar dan tulisan yang berbeda – beda.

Jika diperhatikan dengan seksama, pilar tersebut mencoba memperlihatkan cerita ulang tentang perang Tondano yang akhirnya melahirkan obyek wisata itu. Cerita dimulai dari perang Tondano (1661 – 1664) hingga perang Tondano keempat (1807 – 1809).

Perang Tondano pertama merupaka perang rakyat sekitar di sekitar Pulau Tondano melawan pasukan Kolonial Belanda. Belanda sedikit kewalahan karena harus melawan kurang lebih 1.400 anggota laskar yang terdiri atas perempuan dan laki – laki. Mereka terlibat dalam pertempuran di atas air dan rawa.

Perang Tondano kedua terjadi disebabkan oleh perlakuan semena – mena Belanda yang menyalahi perjanjian 10 januari 1679 tentang persekutuan – persahabatan antara Minahasa dan Belanda. Tidak adanya kompromi atas kesalahan itu, Belanda justru menyerang Toa Minahasa terlebih dahulu.

Perang Tondano ketiga (1707 – 1711) lahir karena kekejaman Belanda yang semakin menjadi – jadi. Para tetua akhirnya tidak tahan atas penindasan tersebut, apalagi disertai dengan adanya tipu daya yang dilakukan Belanda.

Perang Tondano keempat (1804 – 1809) lahir karena Toa Minahasa menolak pemaksaan yang bertentangan dengan adat yang dilakukan Belanda. Mereka pun menolak dengan cara penghentian pemasokan dan perdagangan beras, tidak membayar utang sandang, tidak mengizinkan seorang pemuda menjadi serdadu Belanda, dan tuntutan pemulangan serdadui – serdadu dari luar Minahasa.

“Ini merupakan pertahanan terakhir Masyarakat Minahasa melawan Belanda. Meski mendapat gempuran, mereka bisa bertahan, ” kata salah satu warga Minahasa, Lefrando Andre Gosal.

Lefrando yang juga ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulaesi Utara itu menjelaskan, kata Moraya pun merujuk pada peristiwa tersebut. Moraya berarti genangan darah, yang memperlihatkan peristiwa kelam yang menghilangkan banyak nyawa pejuang.

Selain pilar – pilar yang berdiri kokoh, ada pula sebuah bangunan berlantai emaot. Banguna ini pun tidak ditutupi tembok sehingga ketika menaiki tangga, saya melihat keseluruhan wilayah Benteng Moraya sekaligus pemandangan dari pelbagai sudut setiap lantainya.

Hal lain yang menarik di Benteng Moraya terdapat pula Waruga yang sudah dibersihkan dan menjadi pajangan. Terlihat pula ada beberapa sisa bongkohan batu yang berjejeran, sisa peninggalan benteng yang sudah hancur.

Menikmati Keindahan Seluruh Penjuru

Bukit Tetempangan berada di Desa Koha, Mandolang. Berada di ketinggian 568 meter di atas permukaan laut (mdpl) bukit ini menjadi panorama yang memukau disana.

Panorama tersebu memperlihatkan pulau terluar Indonesia, Pulau Manadotua, Kepulauan Bunaken, Teluk Amurang, dan Pantai Teluk Manado.

Awalnya,Bukit Tetempangan hanya digunakan sebagai tempat olahraga paralayang. Namun, karena bukit itu menyajikan pemandangan menarik, Tetempangan menjadi obyek wisata untuk mengagumi pemandangan beberapa kota di Sulawesi Utara.

“Penemuan tempat ini berasal dari pencarian lokasi yang tepat buat paralayang, dulunya ini hamparan pohon pala dan cengkeh saja,” kata Melissa Manueke, salah satu pilot solo Kawanua Paragliding Club, yang merupakan organisasi Bukit Tetempangan.

Pemilihan tempat tersebut karena merupakan lokasi yang cukup strategis, hanya sekitar 15 km dari kota Manado. Lokasi ini pun memiliiki prospek angin yang baik karena menawarkan arah angin yang beragam.

Dengan bukit yang terbuka dan menghadap langsung ke laut dan hamparan perkebunan pala dan cengkeh baik dari sisi kiri maupun kanan, maka membuat bukit Tetempangan bisa melihat pemandangan matahari terbit dan terbenam. Pengunjung bisa dengan luas menikmati pemandangan, pada pagi ataupun sore dengan hamparan rumput hijau.

Udara di tempat tersebut pun terbilang sejuk meski ketika sore menjelang malam sering kali angin begitu nakal. Sebaiknya dipersiapkan jaket karena udara akan semakin dingin dengan embusan angin yang cukup besar.

Jika ingin merasakan sensasi menyaksikan pemandangan dengan cara berbeda, Mellisa menyarankan untuk mencova paralayang sejak pukul 07.00 hingga sebelum matahari terbenam. Bagi wisatawan lokal, cukup mengeluarkan Rp.750.000 dan wisatawan mancanegara dengan harga 120 dolar AS tanpa batas durasi.

Sumber Referensi: Koran Repubilka, Ahad 1 April 2018 pada rubrik Senggang – Jalan – Jalan yang ditulis oleh Dwina Agustin

Bertujuan ditulis ulang untuk memberikan manfaat seluas – luasnya kepada pembaca online.

Mukhofas Al Fikri

Founder BauBlogging.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *