Contents

Genealogi Demak

Tanda – tanda keruntuhan Majapahit mulai tampak sejak meninggalnya Patih Gajah Mada pada 1364. Beberapa dekade kemudian, Prabu Hayam Wuruk mangkat. Penggantinya, Wikramawardhana, ternyata tidak mampu menjadi pemersatu, sehingga kerajaan Hindu – Buddha itu mulai keropos. Para elite terbiasa hidup mewah saling berebut kekuasaan dalam Palagan Paregreg (Perang saudara).

Majapahit juga lemah dalam menjaga penetrasi eksternal. Dalam masa itu, Cina mulai aktif menyebarkan hegemoni dengan memanfaatkan jalur maritim nusantara. Pada 1405 utusan Dinasti Ming. Cheng Ho, mulai mengadakan ekspedisi ke Nusantara.

Kendati tidak bertujuan menjajah Majapahit, armada Cina itu dilengkapi dengan teknologi perkapalan dan sistem navigasi yang jauh lebih unggul. Selain mengemban tugas dari kerajaannya, diplomat ulung itu juga tampil sebagai tokoh Muslim yang relatif berhasil mewujudkan asimilasi Cina, Islam, dengan masyarakat di daerah – daerah yang disinggahinya.

Penetrasi terhadap Majapahit juga terjadi di Selat Malaka sejak akhir abad ke -14. Pada 1405 Kesultanan Malaka berdiri dan menguasai perairan yang strategis itu. Dinasiti Ming diketahui dekat dengan negara ini. Armada kekaisaran Cina itu kerap mengamankan jalur perniagaan maritim Malaka, sehingga mengikiskan peran Majapahit yang pernah merajai seluruh nusantara pada periode 1350 – 1380.

Perang Paregreg menjadi ajang konflik dua kubu, yakni Wikramawardhana sebagai menantu Hayam Wuruk dan Bre Wirabhumi yang merupakan Putra Hayam Wuruk dari seorang selir. Perselisihan ini agak mereda ketika pasukan Wikramawardhana melakukan penyerbuan pada 1406. Akibatnya, Bre Wirabhumi ditangkap dan dihukun pancung. Menurut Prof. Song Yuanzhi dalam Cheng Ho Muslim Tinghoa, kejadian ini juga menyebabkan 170 awak kapal Cheng Ho tewas.

Para penyerbu agaknya tidak menyadari kehadiran orang – orang Cina tersebut yang sedang singgah di istana Bre Wirabhumi. Akan tetapi, Kaisar Cina tidak membalasnya denga serangan militer. Pihak Wikramawardhana hanya dituntut membayar ganti rugi berupa emas sebesar 60 ribu tai.

Majapahit pun secara resmi membuka hubunngan dengan Dinasti Ming. Bagaimanapun, Cina lebih diuntungkan dengan kebijakan ini. Eksepedisi Laksamana Cheng Ho telah mengukuhkan pengaruh pelbagai kota pelabuhan di nusantara. Sebelum bertolak ke Makkah, dia menugaskan Bong Tak Keng, seorang muslim suku Hui, untuk memimpin Champa sembari mengamati masyarakat islam nusantara.

Menantu Bong Tak Keng, Ma Hong Fu, menjadi duta besar Dinasti Ming untuk pusat Majapahit. Sebagai langkah awal, pada 1419 Tak Keng memindahkan Gan Eng Cu dari Manila (Filipina) ke Tuban.

Gan Eng Cu disebut – sebut identik dengan Aria Teja alias Abdurrahman. Dalam Babad Tuban, tokoh ini berperan sebagai kakek Sunan Kalijaga. Menantu Gan Eng Cu, Bong Swi Ho, selanjutnya menjadi kapten Cina di Bangil. Demikian uraian Prof. Slamet Muljana dalam Reruntuhan Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara – negara Islam di Nusantara.

Menurut Prof. Slamet Muljana, hegemoni Cina juga terjadi melalui pernikahan raja – taja Majapahit dengan selir – selir Cina. Diantara mereka adalah Wikramawardhana yang kemudian memiliki anak Swan Lion alias Aria Damar. Kelak, Aria Damar dikirim ke Palembang untuk menjadi adipati.

Setelah Wikramawardhana meninggal, putrinya, Ratu Suhita, menjadi penguasa Majapahit pada 1426. Ketika Ratu suhita mangkat, adik laki – lakinya, Kertawijaya, naik tahta. Raja baru ini bergelar Brawijaya I. Meskipun telah memegang tampuk kekuasaan, Palagan Paregreg masih menyimpan bara sekam.

Kelahiran Raden Patah

Sampailah di masa Brawijaya V. Raja Majapahit ini mempunyai dua orang selir. Salah satunya berasal dari Champa, sedangkan yang lain dari Cina. Suatu kali, selir Champa merasa cemburu, bahkan sang raja harus mengirimkan selir Cina itu kepada adipatinya di Palembang, Aria Damar.

Maka, berangkatlah perempuan ini ke Sumatra. Di Palembang, dia melahirkan bayi yang bernama Jin Bun alias Raden Fattah. Selanjutnya, pernikahan Aria Damar dengan selir Cina tersebut menghasilkan anak yang bernama Kin San alias Raden Kusen. Saat dewasa, keduanya kembali ke Jawa umtuk menghadap raja Majapahit.

Brawijaya V menyukai dua anak itu. Sang raja kemudian memberikan kesempatan kepada Jin Bun untuk membuka kawasan pemukiman di Glagah Wangi, Bintara Demak.

Tiga tahun lamanya Jin Bun merintis wilayah tersebut menjadi basis miliknya. Lama – kelamaan, pengikutnya bertambah banyak. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada diri Brawijaya V, raja yang punya agama berbeda daripada putranya itu.

Untuk diketahui, selama di Palembang, Jin Bun dan Kan San dididik dalam warna budaya Cina dan Islam. Begitu tiba di Jawa, Jin Bun pun lebih dekat dengan kultur pesisir yang menjadi area perdagangan melalui pelabuhan dan terbuka dengan beragam budaya, alih – alih feudal Jawa.

Awalnya, Brawijaya V ingin menghentikan Jin Bun yang telah menguasai Demak secara de facto. Tapi, atas bujukan Sunan Ampel, Brawijaya V mengijinkan Jin Bun untuk menjadi bupati di Demak. Diterimanya saran Sunan Ampel menandakan , dakwah Islam Majapahit pada era Brawijaya V tidak menemui halangan dari Negara.

Pada 1477 Jin Bun berhasil merebut semarang, salah satu kota yang disinggahi Cheng Ho. Betapa kagetnya Jin Bun ketika melihat masjid yang dahulunya ada di zaman Cheng Ho telah berubah menjadi Kelenteng.

Bagaimanapun, Jin Bun tidak mau merobohkan rumah ibadah. Satu tahun berikutnya, dia mendirikan masjid sembari tetap menjaga eksistensi kelenteng tersebut. Sikap ini di kemudian hari menjadi modal penting bagi dukungan orang – orang Cina Semarang terhdap pendirian Demak.

Dalam masa ini, Jin Bun dekat sekali dengan cucu Bong Tak Keng yang tidak lain Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Tetua Walisanga ini mewanti – wanti Jin Bun agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah antara dirinya dengan Brawijaya V. selain merupakan ayah kandungnya sendiri, raja Majapahit itu juga tidak pernah menghalang – halangi dakwah Islam di masa kekuasaanya.

Kekuasaan dan Kejayaan Demak

Ada dua riwayat tentag huru – hara pada 1478. Riwayat pertama sebagaimana yang dinarasikan Prof. Slamet Muljana. Setelah Sunan Ampel wafat, Kin San melakukan desersi ke Demak. Ini menjadi kesempatan bagi Jin Bun untuk merebut kekuasaan Majapahit.

Meskipun saat itu masih berusia 23 tahun dia dengan mudah menaklukkan ayahnya. Brawijaya V pun dibawa ke Demak masih dengan tata cara penuh kehormatan, walau berstatus tawanan.

Sejak saat itu, Majapahit masih eksis dengan raja baru, Brawijaya VI, tetapi menjadi raja bawahan demak. Pada 1527, kata Muljana, imperium Majapahit runtuh sama sekali setelah serangan dari pasukan Sunan Gunung Jati. Penyebabnya, pemimpin Majapahit itu terbukti menjalin hubungan dengan Portugis.

Adapun riwayat kedua berkisah tentang kelanjutan Palagan Paregreg, yakni antara Brawijaya V dan Singhawardhana. Karena kalah, sosok yang disebut terakhir itu menyingkir ke bekas pusat Kerajaan Kediri di Daha.

Bertahun – tahun kemudian, anaknya Ranawijaya, berhasil mengalahkan Brawijaya V pada 1478. Sebagai putra Brawijaya V, Jin Bun mengirimkan pasukan bantuan dari Demak yang dipimpin Sunan Ngudung.

Sayangnya, Sunan Ngudung gugur ditangan Kin San saat itu berpihak pada Ranawijaya. Pusat kekuasaan sisa – sisa Majapahit pun bergeser ke Daha sempat berjeda karena Patih Udara melakukan kudeta terhadap Ranawijaya.

Tidak hanya mengakui kekuasaan Demak, Patih Udara menikah dengan seorang putri Jin Bun. Akan tetapi, kedekatan politis ini tidak berarti banyak. Pihak Demak balik menyerang Patih Udara setelah mengetahui persekutuan dengan Portugis.

Kesultanan Demak merupakan negara Islam pertama di Jawa yang berdiri pada abad ke – 15. Setelah didaulat menjadi penguasa Demak, Jin Bun menggunakan gelar al –Fatah atau lengkapnya “Sultan Fattah Syekh Alam Akbar Panembehan Jimbun Abdul Rahman Sayyidin Panatagama Sirullah Khalifatullah Amiril Mukminin Hajjudin Khamid Khan Abdul Suryo Alam di Bintaro Demak”

Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai Raden Fattah. Adik tirinya, Raden Kusen, diserahi penguasaan atas Semarang. Kota ini menjadi pelabuhan penting bagi pemantapan posisi Demak sebagai negara maritim.

Pada 1479, Raden Fattah meresmikan Masjid Agung Demak. Pembangunan masjid ini didukung ahli – ahli kayu komunitas Cina Semarang yang menghormati sikap politik Demak, terutama dengan menjaga eksistensi kelenteng Semarang. Toleransi yang dijalankan Raden Fattah dapat merujuk pada petuah gurunya, Sunan Ampel, yang tidak ingin masyarakat non muslim di Jawa mengalami ketertindasan.

Perlahan – tapi pasti, Islam mulai diterima orang – orang Jawa, termasuk penduduk di pedalaman. Agama ini tidak mengajarkan bahwa kedudukan raja seperti dewa – dewa, pemujaan hanya ditujukan kepada Allah Swt, Zat yang Maha Esa.

Daya tarik lainnya dari Islam adalah ketiadaan sistem kasta. Pada realitasnya, orang – orang Jawa juga tertarik dengan gaya Walisanga yang memadukan pendekatan kultural, keahlian pertanian dan irigasi, serta bahasa.

Tatanan Demak

Sejak masih sebagai Kadipaten, Demak dibangun bersama – sama oleh Raden Fattah dan para Walisanga. Mereka memiliki visi tentang kebesaran Islam di Tanah Jawa. Negara ini memberi ruang pada prinsip – prinsip musyawarah mufakat, alih – alih mengutamakan kedudukan raja.

Hal ini dikomentari budayawan WS Rendra dalam pidatonya yang berjudul “Megatruh” dalam menyambut hari pahlawan pada 1997. Dia menyebutkan bahwa Kesultanan Demak, “[…] Orang – orang Jawa menguasai setiap jengkal tanahnya. Tak ada kekuatan asing yang bisa melecehkan kedaulatan Tanah Air Mereka.”

Batu uji dari pujian ini tentunya adalah peran Fatahillah dalam mempertahankan Sunda Kelapa (Jakarta) dari ancaman Portugis. Kedekatan elite Jawa dengan Bangsa Eropa ini dapat ditelisik sejak Prabu Udara. Seperti digambarkan Prof Hamka dalam Sejarah Umat Islam, raja – raja Hindu di Jawa tampaknya lebih takut perkembangan Islam timur dibandingkan ekspansi Kristen dari barat.

Pada 1511, armada laut Portugis dibawah pimpinan Alfonso de Albequerque menaklukkan pelabuhan Malaka. Sebenarnya Kesultanan Demak telah ikut membantu mempertahankan Malaka, tetapi gagal.

Setelah kejatuhan Malaka, Demak menjadi satu – satunya kedaulatan Islam di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, pada 1522 Ratu Pajajaran dari Jawa Barat melalui perjanjian Padrong mengizinkan Portugis untuk mendirikan Benteng di Sunda Kelapa. Hal itu membangkitkan semangat perlawanan Kesultanan Demak.

Sunda Kelapa sangat strategis. Menurut Hamka, seandainya Portugis dapat menguasai Sunda Kepala, raja – raja Jawa hanya berperan sebagai wakil belaka. Bahkan, seluruh Jawa dapat menjadi wilayah jajahan bangsa Eropa ini.

Pada 1526, Alfonso de Albequerque menerjunkan kapal perang dibawah pimpinan Fransisco de Sa ke Sunda Kelapa. Armada ini dilengkapi dengan persenjataan, seperti meriam tempur dan prajurit sekitar 600 orang.

Demak saat itu dipimpin putra Raden Fattah, Sultan Trenggono, untuk mengantisipasi pasukan de Sa, dia mengirimkan 20 kapal perang dengan kekuatan 1.500 orang prajurit dibawah komando Fatahillah.

Sosok ini disebut – sebut sebagai seorang ulama kharismatik dari Pasai (Sumatra) yang menikah dengan adik raja Demak itu. Armada Demak ini didukung pula oleh pasukan Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Pasukan Fattahillah tidak langsung menuju Sunda Kelapa, tetapi berbelok ke Banten. Tujuannya untuk mempertahankan dan menjadikan daerah sekitar pelabuhan tersebut sebagai basis kekuatan.

Penamaan Jayakarta

Menjelang akhir 1526, Banten dapat dikendalikan Kesultanan Demak, yang menempatkan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, sebagai wakil. Barulah pada 1527, Fatahillah mulai bergerak ke Sunda Kelapa.

Hasilnya, dalam waktu relatif singkat Sunda Kelapa berhasil dikuasai Fatahillah. Dengan demikian, pelabuhan ini siap mengusir gempuran Portugis. Pasukan Fransisco de Sa menderita kekalahan, terutama kapal.utama mereka tenggelam di dekat teluk Sunda Kelapa.

Mereka memilih untuk kembali ke Malaka sehingga tuntas perjuangan Demak mempertahankan kedaulatan dari bangsa asing tersebut. Sejak 22 juni 1527, kota pelabuhan ini in berganti nama menjadi Jayakarta, yang berarti ‘kemenangan besar’ tanggal itu sampai sekarang diperingati sebagai hari lahir Jakarta.

Era Sultan Trenggono merupakan masa keemasan Demak. penduduk daerah pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur secara berangsur – angsur mulai menerima Islam. Bahkan pengaruh kesultanan ini mencapai wilayah Kalimantan, terutama Banjar dan Kutai. Selain penyebaran agama, Kesultanan Demak juga berjaya melalui ekonomi yang tertumpu pada jalur maritim. Pesisir utara Jawa menjadi daerah pertumbuhan pusat – pusat perdagangan. Masyarakat di sana menolak bekerja sama dengan kongsi – kongsi Eropa yang bervisi monopolistik.

Kemunduran Demak

Pada 1546, Sultan Trenggono menghembuskan nafas terakhir. Penggantinya adalah putranya sendiri, Sunan Prawoto. Akan tetapi, kendali pusat tidak lagi mampu meneguhkan persatuan, bahkan, daerah – daerah kekuasaan di Jawa Yimur mulai lepas dari kekuasaan Demak. Tiga tahun kemudian, intrik politik semakin memanas. Sunan Prawoto menjadi korban pembunuhan yang dilakukan komplotan Arya Panangsang.

Alasannya, Sunan Prawoto dianggap terlibat dalam pembunuhan Surowiyoto, yakni ayah kandung Arya Panangsang. Sosok ini kemudian dibunuh persekutuan Jaka Tingkir dengan Ki Ageng Pamanahan, Raden Sutowijoyo, dan Ki Penjawi.

Sosok Jaka Tingkir di kemudian hari lebih dikenal sebagai pendiri Kesultanan Pajanh.wilayah Pajang berbasis di Pengging (kini sekitar Boyololi dan Klaten), yang sudah eksis sejak zaman Majapahit. Kedekatan Jaka Tingkir dengan Sultan Trenggono menyebabkannya terpilih menjadi bupati Pajang dengan gelar Hadiwijaya.

Sesudah wafatnya Sultan Trenggono, sitausi politik Demak tidak kunjung stabil. Pada 1568, Jaka Tingkir membuat kesepakatan dengan para adipati di Jawa Timur sehingga mereka mengakui kedaulatan Pajang.

Keturunan Sunan Giri, Sunan Prapen, kemudian melantik Jaka Tingkir sebagairaja. Sejak saat itu, berdirilah Kesultanan Pajang yang lebih berorientasi pada daerah pedalaman.

Kendati begitu, Jaka Tingkir menganggap Pajangg sebagai penerus Demak yang berdaulat menguasai Jawa Tengah. Kelak, pada 1587 Pajang dapat disisihkan Mataram yang didirikan Sutawijaya. Penguasa bergelar Panembehan Senopati ini lantas menjadi raja pertama Kesultanan Mataram.

Kemengan Kelas Saudara

Sampai di sini, tafsiran sejarawan UGM, Prof. Kuntowijoyo, cukup menarik untuk disimak. Menurut dia, pendirian Demak menandakan kemenangan kelas saudagar yang bermental maritim atas aristokrat yang bermental agraris, sebagaimana direpesentrasikan raja – raja Majapahit.

Sejak era Demak, kedaulatan ekonomi nusantara yang tertumpu pada perdagangan di laut sesungguhnya dapat dibina. Apalagi, bila melihat pada perkembangan kota – kota pelabuhan pesisir utara Jawa. Akan tetap, jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mulai menumpulkan harapan ini.

Tambahan pula dengan kegagalan Demak dalam merebut kembali Malaka pada 1546. Hal ini diperparah dengan kemunculan negara agraris, Mataram, yang mulai memerintah seluruh Jawa. Sejak saat itu, daulah Islam yang hadir di Jawa cenderung memunggungi laut. Keterpurukan semakin nyata dengan datangnya bangsa asing, terutama Belanda.

Tafsiran selanjutnya, pada zaman Demak ada kecenderungan untuk memadukan dakwah dengan kekuasaan politi. Para ulama, khususnya dalam ikatan walisanga, berperan sebagai penasihat penguasa, bahkan turut menentukan jalannya pemerintahan.

Keadaan sebaliknya terjadi saat Demak mengalami kemunduran. Raja – raja Jawa justru kehilangan kedaulatan dan kehormatannya di hadapan bangsa Eropa. “Pada masa Mataram inilah muncul perpecahan antara antara agama dan politik atau islam dan negara. Mataram menyibukkan diri menegakkan kekuasaannya dengan menyerang kubu kaum saudagar muslim.” Keraton Mataram secara ironis hanya dapat bertahan dengan bantuan kekuasaan Belanda,” tulis Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam (1991:244)

Mahakarya Kesultanan Demak

Salah satu peninggalan penting kerajaan Demak adalah Masjid Agung Demak. Lokasi rumah ibadah ini berada di sebelah barat alun – alun kota Demak. Ini menjadi pakem denah yang berlaku pada kerajaan Muslim di Jawa selanjutnya.

Bangunan ini termasuk masjid tertua di pulau Jawa. Banyak narasi – narasi tradisional yang menyebutkan, Masjid Agung Demak hanya dibangun dalam waktu satu malam oleh para wali. Dalam Babad Demak, misalnya, pembanguna masjid ini ditandai dengan bunyi candrasengkala yang terdapat pada bagian mihrab. Masjid tersebut dibuka pada 1401 saka atau 1479 Masehi.

Masjid Agung Demak menempati lahan seluas kira – kira 1,5 hektare. Kompleks ini terdiri atas tiga bagia, yakni ruang utama, pawestren, dan tempat pemakaman di dekat bangunan utamaya.

Serambi masjid ini adalah ruang terbuka yang dinaungi atap berbentuk limas. Luasnya mencapai 30 x 17 meter persegi. Ada delapan tiang dari kayu jati yang menyangga atap serambi ini.

Seluruhnya dikenal sebagai “Saka Majapahit” karena menurut legenda dibawa dari Keraton Majapahit. Tiang – tiang itu diperindah dengan ukiran bermotif floral, seperti daun – daunan. Masih do serambi, terdapat sebuah beduk dan kentongan kayu.

Diameter beduk itu adalah 29 cm, dengan panjang sekitar 1 meter. Benda ini disebut – sebut sebagai peninggalan walisanga, sebagai sarana untuk mengumpulkan para jamaah sekalian. Adapun ruang utama Masjid Agung Demak memiliki luas 515 meter persegi.

Zaman sekarang, keberadaan masjid Agung Demak dilengkapi dengan fasilitas museum yang menampilkan ;ebih dari 60 koleksi tentang kesultanan Demak. Berdiri di atas lahan seluas 16 meter persegi, tempat ini cocok untuk menjadi destinasi wisata / travel sejarah.

Sumber Asli / Referensi: Koran Republika, Ahad 1 April 2018 (Islam Digest) Penulisnya, Hasanul Rizka.

Tujuan Ditulis di Web ini guna menjangkau banyak Pembaca dan Belajar dari Sejarah.


 

Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia: Cikal Berdirinya Kesultanan Demak
Menerima Pembuatan Jasa Pembuatan Website / Blog / Web Toko Online Menerima Jasa Pemasaran Online untuk Mendongkrak Penjualan Bisnis Saudara

Info Lebih Lanjut Sini

Mukhofas BauBlogging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *