Assalamu’alaikum warahmatullah.

Halaman ini khusus saya buat untuk orang yang sedang bertaarruf dengan saya (dan yang sedang membantu saya dalam proses mencari pasangan). Makanya saya bikin password protected. Jadi yang bisa baca hanya orang-orang yang saya kasih izin. Karna di sini ada informasi yang barangkali tidak bagus jika diketahui publik.

Secara umum isi halaman ini adalah gambaran diri saya. Tentu tidak akan 100% persis. Seorang muslim tidak diperkenankan mengumbar aib dirinya atau orang lain. Saya pun tidak mungkin menceritakan aib-aib saya kan? Tapi saya akan mencoba se-terbuka mungkin, supaya kamu lebih tau saya, dan tidak ada yang disesali di kemudian hari.

Ayyy, here we go.

BIODATA

Nama: Muhammad Khoirudin Fadilah Saputra

Nama Online: Mukhofas Al Fikri

Nama untuk dirumah dan tetangga: Putra

Nama Ayah: Poino

Nama Ibu: Sumiyati

TTL: Medan, 18 Desember 1994 (Diakta Lahir Karanganyar Jawa Tengah: Sebab akat kelahiran dibuat tahun 2006 di Karanganyar)

Alamat saat ini: Ngemping Rt 07 Rw 09 Sringin, Jumantono, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah Indonesia

FOTO

Saya kayaknya jarang foto-foto.

Untuk lihat “penampakan” saya kayak apa bisa cek di:

Google: Mukhofas Al Fikri, Foto Mukhofas

FB saya: facebook.com/mukhofasalfikr dan Mukhofas Baublogging

atau

IG saya: instagram.com/mukhofasalfikr

Twitter Saya: Twitter.com/mukhofasalfikr

Gambaran saya secara umum ada di sana.

Ini ada beberapa foto saya yang agak baru:

(isi beberapa foto Anda di sini)

img201911231502217834531281366879355.jpg
img201911231500537424691328340150655.jpg

PENDIDIKAN

SD

Awalnya di SDN 2 Sringin 1 tahun tahun 2001-2002, terus pindah ke MI Sudirman Ngemping lulus tahun 2007

SMP

MTsN Gondangrejo Filial Ngadiluwih Matesih, Karanganyar 2007-2010 lulus tahun 2010

SMA

SMA MTA Surakarta Lulus tahun 2013

Kuliah

Kuliah di Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta sejak tahun 2014 (Tapi tidak sampai lulus, hanya bertahan sampai semester 2)

Bentuk FisikNormal
Warna KulitHitam, coklat mungkin ya, :p (lebih jelas bisa di foto2 tadi, cek Google, FB, Twitter dan IG)
Tipe RambutKurus, tapi tidak gemuk, apa sebutannya? Bisa lihat di foto.
Warna RambutHitam
Warna MataHitam
Cacat FisikTidak Ada in syaa Allah, Catatan: dalam hal pendengaran kurang dan harus pakai alat bantu dengar dan mata minus berkacamata
Tinggi Badan155 cm
Berat Badan40-49 Kg an kayaknya
Riwayat PenyakitMaag

SEKILAS SOAL KELUARGA SAYA

Saya anak ke-1 dari 3 bersaudara. Jadi keluarga saya terdiri dari Ayah (Poino), Ibu (Sumiyati), saya (Mukhofas), Fitri Rahma Basriyah Amin (Fitri), Khoiru Nisa Putri (Nisa)

Ayah

Ayah saya lahir di Karanganyar 07 september 1966, soalnya Ayah saya punya 6 saudara (3 Laki laki dan 3 perempuan) sedangkan ayah saya anak ketiga dari 7 saudara

Beliau pernah merantau ke Sumatra (Lampung, Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh) tapi yang paling lama di Kawasan Medan.

Bekerja apa saja yangt penting halal ketika di Sumatra.

Pernah beternak ayam potong broiler dan dagang ayam potong di pasar tradisonal, pernah ternak pembibitan ikan lele.

Kini distributor Jipang/ brodnong(Sejenis makanan kue)

Alhamdulillah ayah baik. Shalat 5 waktu juga terjaga, juga ibadah-ibadah wajib. Tapi baik & shaleh sekali ya nggak juga, tapi tidak shaleh dalam taraf banget juga nggak. Mungkin Ayah saya sama kayak ayah-ayah pada umumnya di sekitaran kita. hehe

Dan ikut Kajian di sekitar tempat tinggal untuk menambah agamanya dan berusaha agar selamat hidup dunia akhirat.

Ibu

Ibu saya lahir pada bulan maret 1972 di Karanganyar

Beliau seharusnya pakar ekonomi akuntansi karena sekolah di SMEA tapi tidak pernah menekuni profesi itu.

Ibu saya pernah jualan aneka roti di pasar tradisional, ayam potong, dan membantu ayah dalam bekerja.

Alhamdulillah Ibu baik, ibadah-ibadah wajib terjaga. Secara umum ibu saya juga pertengahan sih, shalehah sekali nggak, tapi dibilang nggak shalehah juga nggak.

Yang saya tau beliau hampir selalu tahajud, hampir selalu dhuha, di waktu-waktu tertentu shalat berjamaah di masjid (Isya dan shubuh biasanya), hadir majelis ilmu sering banget, dalam sehari kadang beliau hadir beberapa majelis ilmu sama seperti ayah.

Adek 1

Adek saya yang pertama, atau anak ke-2 namanya Fitri Rahma Basriyah Amin. Kelahiran 98.

Masih Kuliah di jurusan Psikolog Universitas Negeri Surakarta dan ditargetkan lulus tahun 2020

Nah adek saya yang ini cukup shalehah. Alhamdulillah.

Bisa cek di di IG dia: Fitri Rahma Basriyah Amin https://instagram.com/fitrirahmabasriyah

Adek 2

Adeknya Fitri Rahma namanya Khoiru Nisa Putri. Kelahiran 2003

Adek saya yang ini masih sekolah di SMA Negeri 1 Karanganyar kelas 2 (2019)

FB dia: Khoiru Nisa Putri

IG dia: Khoniputri Instagram.com/khoniputrii

….

Udah, itu aja kayaknya gambaran umum saya dan keluarga saya.

AQIDAH, MAZHAB, dan Tasawwuf

Aqidah

Aqidah ini penting. Apalagi di akhir zaman seperti ini banyak sekali ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan ahlussunnah waljamaah / apa yang diajarkan Nabi dan para sahabatnya / generasi para salaf

Dalam aqidah, saya ikut dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan Sahabatnya dari yang sudah saya ketahui ilmunya dan tahu dasarnya dari Sabda Nabi.

Berusaha mengikuti para generasi pendahulu islam walaupun saya belum sempurna amat sih.

Mazhab

Dalam mazhab, saya ikut mazhab Syafi’i, mazhab dengan pengikut terbesar di dunia.

Atau mengikuti tempat saya mengaji di kajian. Kajian yang saya ikuti MTA (Majlis Tafsir Al Quran) Bila belum tahu MTA bisa cari di Facebook dan lita kegiatan- kegitannya atau tonton di MTA TV di Channel Youtube

Bisa kita nonton di youtube.

Kenapa aqidah dan mazhab ini perlu saya perjelas?

Kalau aqidah memang tidak bisa ditawar-tawar.

Kalau fiqh boleh saya beda mazhab, tapi akan sulit sekali praktekinnya dalam keluarga.

Misal, dalam mazhab Syafii menyentuh istri batal wudhu, sementara dalam mazhab lain nggak.

Repot sekali jadinya. Ini baru masalah wudhu lho. hehe

*catatan: bagi saya ini sangat sangat penting, jangan sampai Anda menikah dengan orang yang banyak hal prinsip malah tidak sesuai, nggak kebayang saya harus sesering apa berantemnya.

Hafalan Quran

Dulu pernah hafal 1 juz di juz ke- 30 sekarang lupa sedikit kadang ingat karena jarang murojaah atau ngulang ngulang.

Hafal juga sebagian surat di juz 29 terutama surat al mursalat, al Insan dan beberapa ayat ayat di beberapa juz 29

Hafal juga sebagian ayat ayat Al Quran di beberapa juz

Kajian yang yang Diikuti

Online:

Youtube>> Video – video sunnah di Yufid, Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Khalid Basamah, Ustadz Zulkarnain Muhammad Ali. Zakir Naik, Ustad – Ustadz di Chanel Yufid Tv

Offline:

Di Majlis Tafsir Al Quran di cabang dekat rumah dan juga via radio Persada FM milik MTA

Buku – Buku terbitan MTA dan juga buku buku yang saya baca di perpustakaan buku atau kalau pas ada buku – buku yang saya temui akan saya pelajari (Misal di masjid – masjid yang terkadang ada buku buku tebal bagus saya luangkan sedikit untuk dipelajari.

Target Menikah

2020 atau secepatnya

PEKERJAAN / PROFESI

Saya akan persingkat terkait hal ini dalam beberapa poin.

Profesi saya apa? Saya pelaku bisnis online dan punya usaha bisnis pakan ternak serta penulis ebook atau buku

Fokusnya di apa? 1. jualan, 2. adsense, Salesman Online, menjual karya buku secara digital – online

Jadi, sehari-hari ngapain tuh? banyak yang harus saya kerjain, salah satunya: melakukan optimasi website, menulis konten website, promosi konten, menulis untuk ebook yang akan diterbitkjan dan dijual di google play book dan jualan pakan hewan ternak di daerah saya

Biasanya pemasaran pake apa? Umumnya SEO, tapi kadang yang lain juga ( Facebook Ads, Instagram Ads, Youtube Ads.

Jadi, bisnis atau bukan? Antara iya dan tidak, krn kalau bisnis itu kesannya uang banyak sekali, uang saya ya belum layak sebenarnya kalau disebut bisnis.

Bisnis karena didalamnya ada proses untuk mendapatkan penghasilan yang halal dan membutuhkan proses.

Selain jualan dan adsense, ada yang lain? Ada beberapa, Sibuk jualan pakan ternak seorang diri,

Kalau ingin tahu lebih detail soal pekerjaan saya gimana, klik di sini.

Kondisi FINANSIAL

Salah satu hal yang biasanya jadi pertimbangan bagi wanita adalah kondisi finansial di laki-laki. Saya rasa cukup wajar.

Seperti yang saya jelaskan di atas, saya berprofesi sebagai internet marketer / pelaku bisnis online jualan pakan ternak.

Terkait kondisi finansial, saya punya motor nggak?

(belum punya)

Mobil?

belum punya

Rumah?

belum punya, tapi saya ingin punya lahan dari uang hasil jerih payah sendiri (Buat bangun rumah dan kebun buah)

Berapa income bulanan saya?

(1.000.000) dan bisa naik turun (tergantung dari usaha jika maksimal insyaAllah bisa ningkat

Punya tabungan?

Punya dan uang koin perak dinar dirham untuk investasi emas untuk menjaga inflasi mata uang

….

‘ala kulli hal alhamdulillah.

GAMBARAN PRIBADI

Sifat Positif: Saya nggak baik-baik banget, tapi rasanya lumayan lah. :p, ingin terus belajar dan menambah ketrampilan untuk kemajuan pribadi dan masa depan keluarga saya,.

Sifat Negatif:

    • Kayaknya saya agak malas jika semangatnya melemah,
    • Saya lebih cenderung pendiam / minder
    • Ceroboh atau kekurangn telitian
    • Pemalu / introvert

Hal yang disukai

Diskusi Kegamaan, diskusi pengetahuan yang menambah wawasan berharga, jalan – jalan ke tempat baru / berwisata, mencoba hal baru

Hal yang dibenci:

Angkuh, Kemunafikan, Tidak Jujur (Berbohong), khianat

Merokok: Tidak.

Hobi / yang saya suka:

1. Membaca buku pengembangan diir

2. Membaca buku buku bisnis dan manajemen bisnis untuk menambah wawasan berbisnis

3. Mengeblog: sejenis menulis dan mengembangkan dunia tulis menulis secara online

4. Jalan – jalan / traveling

5. Menanam

6. Digital marketing/ sejenis pemasaran / promosi

Tentang dan Sifat Saya

  1. Mudah Tersinggung / Emosi jika tidak kondisi tidak tenang (Tapi saya berusaha untuk berlatih untuk tidak marah, karena orang beriman itu harus sabar ketika marah
  2. Terkadang Humoris dan kadang cuek (Diliat pada situasi dan kondisi (Jika pas tenang dan rasa semangat bahagia saya bisa humoris) Cuek kalau belum kenal dengan orang lain secara menyeluruh

CARI ISTRI YANG KRITERIA-NYA KAYAK APA?

    • Secara umum sih kita sebut shalehah ya. Tapi saya nggak nyari yang super duper alim kok. Karna saya juga sadar kapasitas saya kayak apa. Tapi setidaknya dia selalu shalat 5 waktu dan ibadah wajib lainnya. Kalau rutin ibadah sunnah maka jadi nilai plus. Kalau rajin hadir pengajian nilai plus juga. Biasanya dari pakaian bisa kita nilai. Semakin lebar baju dan jilbabnya maka akan semakin baik. hehe. Namun yang paling penting lagi, pemahamannya bukan yang “aneh-aneh”, bukan yang suka membid’ah2kan, mensyirik2an, dst itu. (if you know what I mean).
    • Secara fisik, oke. Artinya bisa lah dikategorikan cantik dan enak dilihat. Tapi gak harus yang terlalu cantik juga. Kalau kata Ustadz Abdul Somad, “jangan yang terlalu cantik, nanti dikira kita pelet, jangan yang terlalu jelek nanti malu kau bawa dia kondangan” hehe. Tapi fisik sebenarnya lebih ke chemistry. Kadang di mata kita cantik tapi di mata orang nggak. Kadang juga sebaliknya. Jadi tidak disukai bukan karena jelek, hanya chemistry-nya nggak dapet.
    • Cerdas dalam ilmu parenting (Belum pinter juga gapapa, nanti kita belajar bareng bareng untuk membentuk anak anak sholeh yang aqidahnya.
    • Cerdas dan baik akhlaknya agamanya. Tidak harus sempurna amat (Saling lengkap melengkapi satu sama lain)
    • Pandai memasak (Jika belum mahir kita belajar lewat videos video youtube atau artikel di internenet tentang resep masakan.
    • Mau dan tunduk untuk menutup aurat sesuai syariah islam (Boleh Bercadar, niqab juga boleh)
    • Kulitnya Sawo matang, Putih, kuning langsat (Matanya sipit juga boleh tidak membatasi)
    • Dari sisi nasab, baik. Artinya berasal dari orang tua / keluarga yang baik. Tidak juga harus dari keluarga kiayi / ustadz. Selama si ayah dan ibu-nya shalat 5 waktu dan melakukan ibadah wajib. Dan tidak ada terdengar tindakan kriminal tertentu misalnya, itu sudah dianggap baik. Guru saya paling menekankan soal nasab ini.

Tapi, ada tidak preferensi fisik si calon?

Tentu ada, kalau tidak ada malah saya tidak normal sebagai laki-laki.  Kira-kira kayak dalam tabel di bawah ini.

*BTW format di bawah ini saya ambil dari orang juga yang kemudian saya sesuaikan.

Bentuk Fisik:Boleh kurus, boleh chubby, yang penting tidak obesitas :p
Warna Kulit:Tidak Membatasi. Tapi jangan juga terlampau gelap. Krn saya sendiri sudah gelap. wahaha
Tipe Rambut:Lurus atau ikal, yang penting jangan keriting.
Warna Rambut:Tidak Membatasi.
Warna Mata:Tidak Membatasi.
Cacat Fisik:Tidak.
Tinggi Badan:Tidak membatasi. Boleh diatas tinggi badan saya atau dibawah saya
Berat Badan:Tidak membatasi. Selama tidak obesitas saja.
Riwayat Penyakit:Tidak; Tidak ada penyakit dalam atau keturunan.
UmurSaya lahir ’94 (25 tahun), ingin-nya tidak membatasi (maksimal paling tua 36 tahun)

Semakin muda dari sayta juga tidak masalah.
StatusBoleh Lajang / Janda (Tidak membatasi)Khusus untuk janda belum punya anak

VISI MISI KELUARGA

Visi

Semua anggota keluarga harus hidup sesuai ketentuan Allah dan RasulNya hingga ajal, terbebas dari azab qubur, tidak teriksa di padang mahsyar, tidak harus mampir di neraka, masuk surga tanpa hisab dan tinggal bersama Rasulullah di dalamnya.

Misi

    • Setiap anggota keluarga berusaha sekuat mungkin untuk bisa masuk golongan muhsinin dan muttaqin
    • Setiap anggota keluarga harus terlibat dalam dakwah, sekecil apapun, dan dalam ranah apapun
    • Setiap anggota keluarga harus bisa menjadi sebermanfaat mungkin kepada orang tua, saudara dekat, saudara jauh, masyarakat sekitar, dan masyarakat Indonesia juga dunia pada umumnya
    • Setiap anggota keluarga harus hidup sesuai syariat Allah dan RasulNya
    • Setiap anggota keluarga harus menjadi majelis ilmu sebagai tempat yang harus dikunjungi rutin setiap harinya
    • Setiap anggota keluarga harus memiliki ibadah harian, mingguan, bulanan, dan tahunan yang dikerjakan secara istiqamah
    • Setiap anggota keluarga berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan dosa sekecil apapun

Istri yang bekerja vs istri yang tidak bekerja

Kalau boleh memilih, saya akan lebih suka jika istri saya nanti full menjadi ibu rumah tangga.

  1. Ngurusin saya sebagai suami, anak-anak, rumah, dan seputarnya secara maksimal.
  2. Saya ingin istri saya sehari-hari bisa temenin saya kerja (di rumah, atau di luar rumah). Jika harus ada asisten (yang ngatur jadwal, keuangan, diskusi, dll) dalam urusan kerjaan, pengennya juga istri yang handle.
  3. Kalau saya harus pergi ke luar kota atau harus hadir acara apa gitu, pengennya istri juga ikut. Kalau saya hadir majelis ilmu atau majelis zikir (yang jamaahnya laki-laki juga perempuan), pengennya istri juga ikut.
  4. Saya ingin anak-anak saya tumbuh dari kecil bersama saya dan ibu mereka. Saya ingin istri saya bisa membersamai anak-anak dari pagi ke pagi. Ngurusin, temenin, ngajarin, bacain Alquran, bacaan shalawat, dll ke anak-anak. nggak pas aja rasanya anak dititip ke orang (Ibu, Mertua, pembantu, jasa titip anak, dll) lalu si istri keluar karena ada keperluan (kerja atau yang lain)
  5. Dan, semua hal ini rasanya baru akan terlaksana jika istri tidak terikat pekerjaan dengan lembaga / instansi tertentu.

Tapi jika nanti si istri memang ingin bekerja, in syaa Allah bisa dibicarakan kemudian. Kita akan cari pekerjaan apa dan seperti apa yang kira-kira cocok. 🙂

Secara umum ada 2 kelompok dalam hal ini. Ada yang bebas saja istri mau bekerja atau tidak. Ada juga yang cenderung istri tidak bekerja. Kedua kelompok ini tentu punya pertimbangan masing-masing.

Untuk lebih jelas, bisa baca lebih lanjut di bawah.

…..

Saya bisa sampe pada tahap memutuskan ingin punya istri yang tidak bekerja, tidak semata-mata karena keinginan (nafsu) saya, bukan asal-asalan, bukan buat gaya-gaya an.

Namun, saya pelajari dari kisah orang-orang. Saya denger nasihat para guru. Saya cari tau pandangan para Ustadz / Buya / Habaib / dst terkait dengan hal ini.

Poin saya adalah, keputusan ini bukan atas dasar nafsu pribadi saya, bukan “saya pengen aja gitu, istri gak kerja”. Landasan saya didominasi variabel agama. Saya akan cantumkan beberapa pandangan Ulama terkait hal ini.

1. Istri yang bekerja, rezekinya adalah rezeki si istri, bukan keluarga. beda dengan suami yang bekerja, rezekinya adalah rezeki keluarga. istri yang bekerja (nyari duit) padahal di suami masih bisa, maka akan selalu banyak masalah dan akan selalu kurang, karena tidak ada keberkahan di dalamnya. Beda ceritanya jika yang nyari nafkah si suami, si istri memang hobi-nya dagang, nah itu ceritanya beda. Penjelasan lengkap bisa dengar penjelasan dari Ustadz Adi Hidayat di bawah ini. Fokus di menit ke-6 hingga selesai.

2. Kata Buya Yahya: a. wanita kalau mau berkarir / bekerja boleh saja, tapi coba pelajari model bekerjanya Sayyidatuna Khadijah. b. kalau memang suami gak mampu, oke lah, tapi kalu suaminya mampu, ngapain coba?. c. wanita kalau udah punya duit biasanya suka ngelawan, ini udah semacam sifat “dari sananya”, coba aja cek, kasus perceraian biasanya si istri lebih berduit. Lebih jelasnya bisa nonton penjelasan Buya di bawah.

3. saya banyak sekali mendengar kasus perselingkuhan di dunia kerja. ketika saya sebut banyak, maksud saya, buaaanyak! banget!. awalnya mungkin gak niat, tapi krn lama-lama, sering ketemu orang itu-itu aja, jadi juga. “ah itu kan kalau yang bersangkutan gak kuat iman”. Hm, bahkan yang sudah hafidhah sekalipun bisa selingkuh. Bahkan yang kelihatannya jilbab lebar-lebar itu bisa selingkuh. Dulu, guru saya megang akun fb konsultan pernikahan. Beliau punya akses utk baca-baca keluhan orang-orang yang curhat. Jadi, yang saya bilang di sini, bahwa ibu-ibu shalihah itu ternyata selingkuh juga, bukan karangan saya, itu terjadi! banyak!

Wallahua’lam cerita ini bener apa nggak, tapi yang kayak begini ada banyak terjadi. Ini salah satu dari berbagai kejadin yang bisa terjadi. Baca, klik link ini.

4. Ada banyak sekali nasehat dari guru-guru saya terkait hal ini, bahwa lebih baik istri tidak bekerja, tidak menjadi nafkah. Saya akan kutip beberapa percakapan saya dengan guru-guru saya.

SS di bawah dari guru saya, mas Ibrahim Vatih.

Selanjutnya di bawah ini adalah jawaban dari para guru saya yang lain, saya nanya dengan pertanyaan yang sama.

*****

Assalamu’alaikum warahmatullah.

Tgk / Guru yang saya muliakan.

Saya punya beberapa pertanyaan terkait istri bekerja / istri mencari nafkah / wanita karir.

Pertanyaan ini saya ajukan ke beberapa Guru saya.

Bukan untuk membanding2kan.

Justru saya sedang mengumpulkan berbagai macam pandangan dari para guru terkait hal ini, utk kemudian bisa saya ambil kesimpulan.

Hal ini saya lakukan krn saya sedang nyari2 calon juga, dan atas ilmu dan pertimbangan yang Alfaqir punya, saya lebih prefer / lebih cocok jika istri tidak bekerja / tidak menjadi nafkah / bukan wanita karir. Jika memang harus kerja, maka pekerjaan yang bisa remote / dilakukan di rumah.

Masukan / nasehat dari para guru nanti akan saya jadikan acuan utk kemudian saya ambil kesimpulan, apakah “ingin istri tidak bekerja / tidak mencari nafkah” tetap saya jadikan sbg syarat atau tidak.

Mohon Gurunda bersedia menjawab secara objektif berdasarkan Ilmu (Alquran, Hadits, pendapat para ulama, dst), pengalaman, analisa, preferensi pribadi, dst.

1. Apa saja kelebihan & kekurangan jika istri bekerja / mencari nafkah? (berdasarkan ilmu, pengalaman, cerita-cerita, dll)

2. Secara pribadi (berdasarkan ilmu, pengalaman, cerita-cerita, dll), Tgk lebih memilih istri yg bekerja atau yg tidak bekerja?

3. Apakah menurut Tgk saya lebih baik tetap pada pendirian saya utk mencari istri yang bersedia tidak bekerja? Alias menjadi ibu rumah tangga yg mengurusi suami dan anak2 juga rumah. Jikapun harus bekerja, maka pekerjaannya bisa dilakukan di rumah. Atau, saya mesti ubah?

Sekian saja Tgk.

Terimakasih banyak atas jawaban Tgk.

?

*****

Berikut beberapa jawaban dari para guru.

1. Jawaban dari Tgk. Salamudin Abubakar Yusuf, sekitar 12 tahun di Dayah MUDI

2. Jawaban dari salah satu guru saya juga, sekitar 7 tahun di MUDI

3. Jawaban dari Tgk. H. Iqbal Jalil

4. Jawaban dari Tgk. Akhyar Kb. Tanjung, Alumni MUDI, ketua RTA Pidie

5. Jawaban dari Tgk. Zulfitri, sekitar 11 tahun di MUDI

Jawaban yang serupa juga saya dapat dari Abi Zahrul, anak dari Abu MUDI saat pengajian TASTAFI di desa kami beberapa waktu yang lalu.

*****

Kesimpulannya, saya lebih cenderung ingin istri yang tidak mencari nafkah, tidak bekerja. Kalaupun harus bekerja, ya dari rumah.

Sekali lagi, ini bukan atas dasar nafsu saya sendiri, ini berdasarkan ilmu, pengalaman, dan nasihat para guru dan ‘Alim ‘Ulama.

Jadi, sama sekali gak boleh bekerja?

Penjabaran lebih lanjut mungkin begini:

  1. boleh bekerja, ketika saya sebagai suami memang dalam kondisi kekurangan uang. artinya uang dari saya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Bisa karena bisnis sedang di titik bawah, saya sakit parah (na’udzubillah), atau ada hal lain. Selama saya masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga, maka untuk apa istri bekerja?
  2. Namun, ada beberapa catatan yang harus diingat ketika dan selama bekerja:
  • boleh bekerja, asal si istri tetap konsisten dengan ibadah harian / mingguan / bulanan / dst-nya dia.
  • silakan bekerja di luar, selama bisa memastikan tidak ada khalwat, tidak campur baur dengan laki-laki
  • bisa menjamin tidak tertarik sama laki-laki lain dan tidak pernah selingkuh (super duper penting).
  • Bisa menjaga interaksi dengan yang bukan muhrim. Misal: tidak bicara yang tidak perlu, tidak saling chat, tidak makan bareng, dll gak perlu disebutin satu-satu yak. :p
  • silakan bekerja di luar selama suami dan anak-anak tetap menjadi prioritas utama. Jenis pekerjaan tertentu mengharuskan dia utk menjadi objek pekerjaanya prioritas utama, nah ini gak bisa. Suami, anak, tetap jadi prioritas utama.
  • silakan bekerja di luar selama target-target yang kita tetapkan di awal utk: a. anak-anak, b. istri, c. suami, d. suami-istri, e. rumah, f. dll bisa tercapai. (misal, targetnya bisa menemani anak-anak paling tidak 1 jam sehari, nah itu harus tercapai)
  • silakan bekerja selama bisa memastikan tetap bisa bersikap layaknya istri yang tidak punya kekuasaan apa-apa. artinya tidak kemudian merasa punya kekuasaan sehingga lancang, keras suara, suka membantah, minta cerai, dst
  • tetap patuh sama suami.

*****

Sebagai tambahan, saya akan cantumkan status fb dari Ibu Wina Risman.

Kalau ingin lihat langsung, klik di sini.

Gimana kalau Kerja Remote?

Hampir dalam semua hal di dunia ini ada pengecualian, termasuk dalam urusan ini.

Singkatnya, kerja remote adalah model bekerja yang tidak terikat waktu dan tempat.

Orang yang bekerja remote bisa kerja dari rumah, warung kopi, di jalan, dan seterusnya. Selama target pekerjaan selesai dan tidak lewat deadline.

Nah, saya in syaa Allah tidak masalah jika istri saya nanti kerja remote, selama beberapa catatan yang saya sampaikan di atas bisa dipenuhi oleh si istri. (baca baik-baik ya, :P)

Profesi apa saja misalnya?

Misal penulis artikel. Ya, tentu dia bisa menulis dari rumah, hasilnya tinggal email, tidak harus ke kantor.

Atau designer misalnya. Pesanan desain-desain bisa dia kerjakan juga dari rumah, tanpa harus ke kantor.

Dalam ranah kesehatan, misal dokter gigi, si istri bisa buka praktik di rumah. (khusus dokter gigi ya, kalau dokter segala penyakit, buka praktik di rumah justru waktu utk ngurusin pasien jauh lebih banyak, tapi kalau dokter gigi rasanya gak begitu ya, hehe)

Atau bisa juga kalau istri dokter, nanti bisa saya buatkan website yang fokusnya di kesehatan (atau topik khusus yang dia kuasai). Monetize-nya bisa dipikirkan kemudian enaknya dengan apa.

Atau kalau si istri punya skill / bakat bikin produk-produk unik atau hobi masak / bikin kue, nanti bisa kita belajar asah lebih dalam bakatnya, kemudian kita pikirkan produksinya untuk kemudian kita coba pasarkan via IG, FB, SEO, atau yang lain.

Dan pekerjaan / profesi lainnya yang kira-kira bisa remote.

Tapi ingat, jika suami masih bisa mencukupi keuangan keluarga, tetap sebaiknya tidak menyibukkan diri dengan urusan keuangan. Jika memang tetap ingin bekerja, biat niatkan untuk ibadah, sharing ilmu, biar ada variasi kegiatan, hobi, dst. Bukan niatan untuk mencari uang / nafkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *