Sejak Asas Cabotage diterapkan, sejalan dengan terbitnya Inpres No 05/2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional Angkutan Laut Dalam Negeri dan dipertegas dengan UU No 17/2008 tentang Pelayaran, telah mendorong investasi yang sangat signifikan dalam pengadaan kapal dan memberikan pengaruh yang besar terhadap industri pelayaran nasional yang semakin berkembang. Jumlah perusahaan pelayaran nasional dan kapal nasional juga semakin bertambah.


Dikutip dari indonesiashippingline.com, Ketua Umum INSA (Indonesian National Shipowners’ Association), Carmelita Hartoto menyatakan bahwa per tahun 2016 lalu, jumlah kapal telah mencapai 24.046 unit dibarengi dengan pertumbuhan perusahaan pelayaran nasional yang mencapai 3.363 perusahaan, dibandingkan dengan jumlah kapal di tahun 2005 sebanyak 6.041 unit. Dengan kekuatan armada yang cukup besar, maka pelayaran nasional mampu melayani distrbusi kargo barang domestik ke seluruh Indonesia. Sehingga bisa dikatakan, industri pelayaran merupakan industri yang punya potensi besar dan akan terus menggeliat di masa depan.

Seiring dengan pertumbuhan tersebut, industri pelayaran juga menghadapi tantangan baru, dan potensi risiko kerugian yang mungkin terjadi. Ditambah dengan kehadiran revolusi industri keempat atau yang lebih dikenal dengan era industri 4.0 yang ditandai dengan hadirnya teknologi komputer super serta intelegensi artifisial atau kecerdasan buatan. Setiap perusahaan yang bergerak di industri ini perlu menyadari risiko yang ada dan melakukan manajemen risiko sebaik mungkin.

Berikut ulasan mengenai beberapa risiko yang harus diperhitungkan:

Risiko Operasional


Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), risiko adalah “kombinasi dari frekuensi dan tingkat keparahan konsekuensi atau akibatnya.” Risiko operasional meliputi dua komponen risiko. Pertama, risiko kegagalan operasional meliputi risiko yang bersumber dari sumber daya manusia (SDM), proses dan teknologi. Kedua, risiko strategi operasional yang berasal dari faktor antara lain pajak, regulasi, pemerintah, masyarakat, kompetisi.


Melakukan proses penilaian risiko yang berkaitan dengan kegiatan dan operasional perusahaan sangatlah penting, sehingga perusahaan dapat memutuskan apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir risiko kerugia

Risiko Alam

Mengandalkan laut sebagai tempat utama jalannya bisnis membuat risiko alam jadi salah satu risiko terbesar yang dihadapi perusahaan industri pelayaran, dan bisa mengancam jalannya bisnis sebuah perusahaan industri pelayaran.

Walaupun segala tindakan persiapan sudah dilakukan sebelumnya, risiko alam di lautan bisa terjadi setiap saat. Sehingga, setiap perusahaan industri pelayaran perlu menyadari hal ini.

Risiko Keuangan

Memperhitungkan risiko biaya operasional tetap dan biaya terkait modal merupakan komponen terbesar dari struktur biaya kapal yang disetarakan dengan tarif sewa dalam suatu kurun waktu tertentu (Time Charter Equivalent / TCE), dengan menganalisa jumlah biaya harian (US $ /hari) dan memperhitungkan jumlah hari kapal beroperasi. Melakukan perhitungan kebijakan keuangan yang tepat dapat menekan risiko kerugian finansial.

Risiko Terorisme

Perusahaan industri pelayaran juga berhadapan dengan risiko lainnya yang tidak dapat dihindari yakni risiko terorisme. Risiko ini seringkali dianggap sepele mengingat minimnya kasus terorisme yang terjadi dan menyerang kapal yang ada di lautan.

Namun, kita tentu masih ingat dengan jelas bahwa beberapa tahun lalu perompak Somalia berhasil menyandera sekaligus mengancam banyak kapal yang berlayar. Contoh lainnya, peristiwa pembajakan dan penyanderaan kapal Indonesia serta awak kapal WNI oleh kelompok Abu Sayyaf tahun 2016 di wilayah Filipina.

Kondisi tersebut perlu disikapi dengan cermat untuk meminimalisir risiko akibat kejadian terorisme yang terjadi.

Langkah Manajemen Risiko yang Tepat

Untuk menghindari kerugian besar akibat risiko yang dihadapi, maka melakukan manajemen risiko sangatlah dibutuhkan. Mulai dari proses identifikasi risiko, penilaian risiko, penerapan pengendalian untuk mengurangi risiko hingga pemantauan efektivitas pengendalian risiko.

Membeli asuransi dapat menjadi salah satu langkah bijak untuk meminimalisir risiko kerugian secara finansial. Bantuan profesional untuk melakukan manajemen risiko dalam perusahaan industri pelayaran secara menyeluruh, efektif dan efisien bisa dipertimbangkan. Sehingga, produk asuransi yang dibeli juga tepat dan sesuai kebutuhan.

Salah satu perusahaan Pialang atau Broker Asuransi dan Konsultan Manajemen Risiko yang sudah sangat berpengalaman untuk industri pelayaran, adalah PT Marsh Indonesia yang memiliki spesialis khusus maritim melalui Marsh’s Marine Practice dengan hampir 600 spesialis maritim yang terkoordinasi secara global.

Perlu disampaikan bahwa penilaian risiko perusahaan di industri pelayaran terutama kapal, harus berkesinambungan dan ditinjau secara berkala untuk meningkatkan keselamatan dan mencegah pencemaran atau polusi. Broker asuransi profesional dapat membantu perusahaan Anda dalam menganalisis risiko, membedakan profil risiko, memberikan paket asuransi yang tepat sesuai kebutuhan, hingga membantu proses klaim ketika risiko terjadi. Disisi lain, perusahaan juga dapat menghemat waktu dan biaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *