Belajar Sepanjang Hayat dengan Menulis Pengalaman Kebaikan

sudah menjadi hal jamak “Belajar itu sepanjang hayat”

mulai dari lahir kedunia pasti manusia sudah ditakdirkan untuk belajar.

mulai dari usia 1 tahun belajar merangkak, berdiri, mendengar suara orang tua, berlatih berbicara.

dan diusia usia berikutnya belajar menulis, belajar membaca dengan masuk sekolah barunya. dan hingga lulus perguruan tinggi tetaplah belajar.

diluar sekolah atau diluar pelajaran mereka juga belajar banyak. belajar tidak harus formal dan dapat sertifikasi kelulusan.

setelah masuk dunia kerjapun juga begitu tetap selalu ada yang namanya belajar dan berlatih.

tapi yang paling jarang dipelajari setiap manusia adalah belajar menuntut ilmu hingga akar akarnya. belajar agama masih sebatas dan sewajarnya. kala ada tausyiah rumah warga pasti ikut dan lain lain.

sudah banyak media media yang cocok untuk menambah pemahaman pada kualitas diri kita.

belajar untuk tujuan mulia yakni dakwah. belajar untuk meninggikan derajat oleh Allah bukan ajang unjuk gigi unjuk jabatan. itu sebuah kesombongan.

seseorang yang telah lama belajar bertahun tahun dan sudah begitu banyak ilmu jadilah tetap rendah hati.

sulit bagi yang sudah level tinggi tapi kemudian menyombongkan diri.

catat semua dari ilmu yang telah kita dapati di buku tulis, agenda, hingga catatan blog.

tentu ilmu yang kebaikan akan membawa bagi sang penulis ilmu. tapi bukan yang mengharap imbalan agar dipetik manusia diera era selanjutnya.

Mukhofas Al Fikri

One thought on “Belajar Sepanjang Hayat dengan Menulis Pengalaman Kebaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *