Bagaimana Menemukan Gaya Khas Menulis?

“Bagaimana awalnya mas bisa menemukan gaya khas menulis?”

Jujur saya tidak mengetahui gaya khas menulis yang ada dalam diri ini.

Tapi bila Anda memang benar benar ingin mengetahui seperti apa gaya yang saya terapkan, maka disarankan untuk membaca sebagian apa yang sudah pernah ditulis baik di blog, buku, ebook, atau media media tulisan yang lain.

Benar memang tidak mengetahui. Yang mengetahui semua ini hanyalah mereka yang membaca karya tulis saya. Kalau yang baru pertama membaca belum merasakan gaya khas menulisnya.

Coba ketika pembaca pemula yang baru membaca buku karya asma nadia akan seperti apa rasanya ketika untuk pertama kali membaca? Tapi bagaimana ketika sudah membaca seabreg karyanya? Dan pasti mengetahui ciri khas gaya seorang penulis. Dan bisa jadi penulis tidak menyadari dengan gayanya sendiri.

Dan menurut seorang teman penulis dan sekaligus blogger bahwa

“mau menulis fiksi maupun nonfiksi dan tetap terus menulis maka lama kelamaan menjadi terlihat branding tulisan serta seperti apa sebenarnya gaya khas menulis kita dengan sendirinya”

Dari kutipan diatas bisa diartikan dengan terus menulis yang tiada henti maka gaya akan terlihat, terkadang kita sebagai penulis pemula selalu memaksa diri untuk mencari tahu gaya khas menulisnya seperti apa dan bagaimana?

Saat bulan juli 2015 yang lalu saat menghadiri reuni akbar alumni ma’had abu bakar ash-shidiq Universitas Muhammadiyah Surakrta  yang mendatangkan seorang pakar bisnis dan seorang budayawan muslim dan sekaligus penulis besar indonesia yakni habiburahman el shirazy dan beliau dulu merupakan seorang dosen di ma’had saat ada seorang penanya

“bagaimana cara menciptakan gaya khas dalam menulis semisal asma nadia, andrea hirata, ahmad fuadi dan penulis beken lainnya?”

Jawaban dari beliau hampir sama dengan sudah saya sebutkan diatas.

Tapi saya sendiri lebih suka gaya bernas, gaya para ulama hadits, atau gaya para penulis sejarah selevel ibnu katsir, imam ath-thobari, ibnu taimiyah. Mungkin sih tapi juga ada keraguannya.

Tapi bila dari segi penulis di era modern mungkin lebih kepada gaya

  1. Implisit (tersirat)

Implisit adalah gaya dengan tidak menyampaikan isi hati kita, tapi menggunakan bahasa lain untuk menyampaikannya. Atau biasa disebut permainan kata (majas) ternyata sampai sekarang saya belum benar menguasai gaya implisit (tersirat)

 

  1. Mendetail

Kalau mendetail saya rasa tidak. Tapi ada pula gaya khas yang mendetail, mungkin belum ada pada diriku ini.

  1. To the point

bisa diartikan menulis dengan lugas, jelas, apa adanya, blak blakkan. Saya tidak tahu termasuk tipe ini atau bukan?

Gaya khas itu

Pernah berlatih menulis sejak sekolah dasar? Hingga sekarang? Seperti apa gaya menulis di kertas?

Yang saya maksud disini adalah gaya ketika Anda menulis di lembaran kertas, buku catatan bukan di smartphone, laptop maupun komputer Anda. Bukan itu.

Gaya menulis huruf huruf aksara. Dan saya yakin pasti setiap jutaan manusia di seluruh dunia pasti punya gaya unik setiap apa yang ditulisnya. Tentu hal ini tidak bisa ditiru oleh orang lain. Dan mungkin Anda sendiri punya kekhasan tersendiri bukan?

Lebih mudahnya coba lihat gaya menulis teman teman sekolah, kuliah, kajian maupun rekan kepenulisan Anda. Saya yakin gayanya akan berbeda jauh. Mungkin tidak bisa ditiru. Itulah gaya khas.

Seperti ada gaya menulis cepat dan latin sehingga mungkin tidak membaca apa makna tulisan tersebut bukan? Ada juga gaya menulis rapi mudah dipahami.

Bagaimana lagi dengan gaya menulis yang setiap hari sudah menjadi konsumsi oleh para pembaca setia dari karya Anda? Pasti pembacalah yang tahu akan hal ini.

Kita akan tahu gaya khas yang kita pakai, tapi asahlah menulis Anda sepanjang waktu tanpa harus menunggu mood buat menulis.

Saran

Bila ingin kelihatan gaya menulis sendiri, perbanyak menulis Anda dari sekarang mulai untuk blog, majalah, koran, media online, diary, hingga menghasilkan buku. Nanti pembaca menilai bagaimana gayanya dan mungkin akan menilainya. Dan bisa jadi karena pembaca adalah juri terbaik untuk tulisan karya kita.

Dan saran lain

  1. Menulislah dengan genre yang berbeda

Kita tidak akan tahu gaya menulis, maka disarankan untuk terus mencoba gaya yang berlainan entah itu fiksi, nonfiksi ataupun faksi. Kalau saya berusaha untuk mencoba menguasai beberapa genre, tapi juga sering kebingungan juga.

  1. Tambah wawasan dengan membaca

Yakin kalau membaca itu bisa menambah wawasan? Bisa tentu dan bisa sebaliknya. Dengan membaca hal yang layak kita ketahui maka akan menambah wawasan kita. Misalnya Anda yang masih pemula dalam menulis dan masih tahap demi tahap, maka banyak membaca hal hal berbau kepenulisan baik di blog blog yang membahas teori kepenulisan dan atau membaca buku yang menari minat Anda terdapat di toko buku terdekat dari tempat tinggal.

penutup

gaya khas hanya bisa dilatih terus menerus yang tiada henti, tetap sabar dalam menjalani, tetap istiqomah. Tidak mudah lelah hanya gara gara sibuk, tidak waktu, banyak tugas, sampai menulis terbengakalai dalam kurun waktu yang agak lama.

Mulai sekarang paksa diri kita untuk menulis. Tapi prosesnya yang terpenting. Tetap jalani apapun resiko yang terjadi.

9 thoughts on “Bagaimana Menemukan Gaya Khas Menulis?

  1. Sampai sekarang saya masih terus belajar biar bisa punya ciri khas sendiri dalam dunia menulis. Selain masih mencari, saya juga mencoba untuk membaca tulisan teman-teman blogger lainnya dan melihat gaya kepenulisannya.

    Terima kasih untuk sharingnya, sangat bermanfaat khususnya saya yang masih amatiran.

  2. Saya sampe skrg masih bingung sama gaya penulisan sendiri hehe, cuma kalo masalah pengaturan kalimat sama bahasa skrg lebih baik daripada pas pertama kali ngeblog 7bln yg lalu.

    Ternyata terbukti semakin banyak menulis semakin lancar juga otak kita dalam merangkai kata + baca2 buku juga menurut saya ampuh buat menambah kosakata penulis hehe

  3. Luar biasa, pokoknya apapun itu gaya menulis yang Mukhofas punya, jadilah diri sendiri (jangan meniru orang lain) dan teruslah bertahan dengan gaya itu. Dan tetaplah menulis. Menulis sampai internet hilang dari muka bumi, atau sampai tangan gak bisa dipakai lagi. 😉
    *kalo ga ada komputer masih ada buku dan pensil* :mrgreen:

  4. Bener banget mas, kadang kita nggak tau seperti apa sih gaya tulisan kita, kita akan tahu perbedaannya antara gaya penulis dr para penulis ketika kita membaca tulisan mereka, begitu hal nya tulisan kita yaa mas, para pembaca lah yang dpt menilai gaya tulisan kita…

    Sejauh ini saya pun g tau gaya tulisan saya I tu seperti apa, tapi saya slalu belajar dr beberapa kegagalan tiap kompetisi yg saya ikuti dimana saya belajar dr kesalahan2 ketika menulis hehe
    Kadang saya menggunakan metode ATM (amati tiru modifikasi) kita boleh meniru gaya tulisan orng tapi kita pun harus punya gaya sendiri sebagai ciri khas tulisan kita hehe

    Terima kasih mas pengetahuan nya ^^

  5. Bicara soal tulis menulis, kalau saya sih susah menemukan ide.
    Saat sudah dapat ide malah bingung gimana mulai nulisnya, menjabarkan ide tersebut.
    Terkadang pas sudah sampai beberapa kalimat, tiba-tiba buntu.
    Sebenarnya sih ingin sekali sering posting.
    Mungkin Ada saran ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *